SUMATERA SELATAN — Desa Adat Sade bukan sekadar situs warisan budaya yang dijaga ketat. Di balik keunikan arsitektur dan tradisi Suku Sasak, kawasan ini juga menjadi pusat perputaran ekonomi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menghidupi warganya. Kebakaran yang terjadi akhir pekan lalu tidak hanya meluluhlantakkan tempat tinggal, tetapi juga memutus denyut ekonomi puluhan keluarga.
Dampak Kebakaran: Kerugian Capai Rp 34 Miliar
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah memperbarui data dampak kebakaran yang terjadi pada Sabtu (23/8/2026) lalu. Total kerugian sementara ditaksir mencapai Rp 34 miliar, mencakup kerusakan rumah, tempat usaha, serta fasilitas umum dan adat.
"Kalau ditotal tadi bersama-sama Bapak Kapolres, Danrem, rekan dari Dinas Pariwisata, kepala desa dan semuanya, dalam hitungannya kurang lebih Rp 34 miliar," ungkap Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri, kepada awak media, Senin (24/6/2026).
Selain 75 unit rumah dan 69 art shop, sejumlah fasilitas penting ikut terdampak. Data Pemkab mencatat satu unit masjid, empat berugak sekenam (gazebo bertiang enam), serta enam berugak sekepat turut hangus terbakar. Satu lumbung alang-alang, balai desa, toilet umum, dan gerbang adat juga menjadi bagian dari bangunan yang rusak.
Di luar kawasan utama, sekitar 20 unit rumah warga yang berada di perimeter Desa Adat Sade juga terkena imbas kebakaran.
Proses Pembersihan dan Upaya Penyelamatan
Hingga saat ini, petugas gabungan dari TNI-Polri, Satpol PP, pemadam kebakaran, dan masyarakat masih berjibaku membersihkan sisa material bangunan. Pantauan di lokasi menunjukkan ratusan personel bekerja sejak pagi membawa sekop, cangkul, dan karung untuk menyisir puing-puing serta mencari barang berharga yang mungkin bisa diselamatkan.
Proses ini dilakukan untuk mempercepat pemulihan kawasan, sembari pemerintah daerah membahas langkah penanganan lebih lanjut.
Rencana Pembangunan Kembali Kawasan Adat
Pemkab Lombok Tengah belum memutuskan desain tata ruang baru untuk kawasan yang terdampak. Pemerintah berjanji akan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk tokoh masyarakat dan pengelola kawasan adat, dalam proses diskusi.
"Rencana ke depan tentu lebih jauh nanti kami akan diskusikan. Seperti apa bangunan diri ke depan, agar terjadi hal yang dimaksud," kata Pathul.
Dia menegaskan bahwa proses pemulihan akan dilakukan secara terarah dan disesuaikan dengan kondisi serta nilai-nilai budaya yang melekat pada Desa Adat Sade.
Desa Wisata Andalan Lombok yang Terbakar
Desa Adat Sade telah menjadi desa wisata sejak 1982 dan merupakan salah satu destinasi andalan di Lombok. Masyarakatnya masih melestarikan keunikan adat Suku Sasak, mulai dari bentuk bangunan tradisional dengan atap alang-alang dan dinding anyaman bambu, hingga tradisi pernikahan khas (kawin culik) yang menjadi daya tarik wisatawan mancanegara.
Bagi wisatawan yang telah merencanakan kunjungan ke desa ini, disarankan untuk menghubungi dinas pariwisata setempat guna mendapatkan informasi terkini mengenai status akses dan kondisi kawasan pasca-kebakaran. Proses pemulihan diperkirakan akan memakan waktu, dan beberapa area mungkin ditutup untuk kunjungan demi keamanan dan kelancaran rekonstruksi.