Angka Pertumbuhan yang Memicu Perang Modal
SUMATERA SELATAN — Dalam rapat dewan beberapa pekan lalu, CEO Rillet Nicolas Kopp memaparkan data pertumbuhan sejak pendanaan Seri B senilai USD 70 juta pada musim panas lalu. Angka tahunan pendapatan berlipat ganda hanya dalam satu kuartal, dengan tambahan pelanggan baru termasuk sejumlah perusahaan publik dan kemitraan strategis dengan EY untuk integrasi alat AI di firma audit raksasa tersebut.
Setelah paparan itu, pesan beruntun dan panggilan telepon terjadi di antara para investor. Hasilnya, 48 jam kemudian Rillet resmi menyandang status unicorn—tanpa berniat menggalang dana sama sekali.
"Rillet sudah membuktikan bisa menang melawan pemain lama yang menguasai kategori ini selama puluhan tahun," ujar Seth Pierrepont, general partner di Iconiq yang memimpin putaran ini, kepada TechCrunch. Pierrepont juga ikut memimpin Seri B dan kini bergabung di jajaran direksi Rillet.
Migrasi Besar-besaran dari Oracle dan NetSuite
Rillet muncul dari mode stealth dua tahun lalu dan sejak itu mengumpulkan total USD 200 juta dari investor kelas atas seperti Iconiq, Andreessen Horowitz, dan Sequoia. Saat ini perusahaan melayani 600 pelanggan, dengan mayoritas berasal dari pengguna sistem akuntansi lawas yang ingin pindah.
Kopp menyebut 50% pelanggan Rillet berasal dari platform Intuit, 30% dari NetSuite dan Sage Intacct, serta 20% sisanya dari Oracle, SAP, Workday, dan produk Microsoft. "Para pelanggan tidak sedang uji coba," tegas Kopp. "Mereka mencabut langsung software ERP dan akuntansi kompetitor."
Arsitektur AI yang Dibangun untuk Agen, Bukan Manusia
Berbeda dari software akuntansi konvensional yang dirancang untuk input manusia, Rillet dibangun khusus untuk agen AI. Manusia bekerja berdampingan dengan agen tersebut untuk mengerjakan pembukuan korporat. Pelanggannya pun beragam, dari usaha laundry hingga waralaba olahraga besar.
Keamanan data menjadi perhatian utama karena platform ini menangani data klien yang sensitif. Rillet menyediakan model routing yang memungkinkan pelanggan mengarahkan permintaan ke model foundational pilihan mereka, seperti OpenAI atau Anthropic. Sistem harness milik Rillet mencegah model-model tersebut melatih data pelanggan, dan tidak ada cross-training antar klien—artinya data satu pelanggan tetap proprietary. Agen AI juga memiliki memori untuk menyimpan riwayat tindakan guna perbaikan proses.
Fitur Audit untuk Menjawab Tantangan Regulasi
Sekitar tiga bulan lalu, Rillet merilis fitur governance yang memungkinkan akuntan melihat dan mengaudit setiap keputusan yang diambil agen AI—termasuk angka yang diambil dan cara perhitungannya. Kopp mengakui fitur ini sulit dibangun karena tim harus mengompres data agen ke format yang bisa dipahami manusia.
"Kami baru menggores permukaan dari potensi teknologi ini," kata Kopp. Saat ini regulasi untuk perusahaan publik mewajibkan setiap transaksi yang dilakukan agen AI harus disetujui manusia lain. Kopp optimistis regulator akan mengadaptasi aturan seiring evolusi industri, seperti yang terjadi saat migrasi cloud dulu.
Julien Bek, lead investor dari Sequoia yang memimpin Seri A, menegaskan keputusan reinvestasi ini mudah diambil setelah melihat pertumbuhan setahun terakhir. "Baji awal Rillet adalah akuntansi, tapi pada akhirnya mereka merevolusi seluruh fungsi keuangan," ujarnya. Bek memprediksi agen finansial bisa menjadi "salah satu peluang software aplikasi terbesar di era AI."
Dampak ke Pasar Software dan Tenaga Kerja
Fenomena Rillet terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap dampak AI pada saham software publik. Kopp meyakini AI memang akan menekan pemain legacy karena memberikan alternatif yang lebih menarik bagi pelanggan. Namun ia menampik kekhawatiran tentang penggantian tenaga kerja massal dalam waktu dekat, terutama di bidang akuntansi. Laporan Stanford beberapa pekan lalu juga belum menemukan bukti perpindahan pekerjaan yang meluas akibat AI.
Bagi pasar Indonesia, model Rillet menjadi sinyal bahwa adopsi AI di sektor keuangan korporat akan semakin agresif. Perusahaan lokal yang masih bergantung pada sistem akuntansi manual atau software lawas perlu memantau perkembangan ini sebagai bahan pertimbangan transformasi digital.