SUMATERA SELATAN — Investor tidak perlu terpaku pada emiten yang secara langsung mengembangkan aplikasi atau produsen chip AI. Analis menilai, fase awal pertumbuhan AI di Indonesia justru akan paling menguntungkan perusahaan yang menyediakan infrastruktur fisik penopang ekosistem tersebut.
"Sektor infrastruktur yang menopang ekosistem tersebut paling menikmati, mulai dari data center, listrik, fiber connectivity, cooling hingga konstruksi," kata Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, kepada Katadata.co.id, Jumat (21/8).
Data Center Jadi Titik Monetisasi Paling Langsung
Riset terbaru KB Valbury Sekuritas berjudul The AI Economy: Unlocking Indonesia's Growth Potential Amid Structural Constraints menilai data center menjadi penerima manfaat terbesar dari belanja modal (capex) AI dalam jangka pendek. Pasar pusat data Indonesia diperkirakan tumbuh dari US$ 1,83 miliar (Rp 32,5 triliun) pada 2026 menjadi US$ 3,48 miliar (Rp 61,87 triliun) pada 2031, dengan tingkat pertumbuhan majemuk (CAGR) 13,7%.
Kapasitas IT load nasional diproyeksikan meningkat dari 1,44 GW pada 2025 menjadi 3,56 GW pada 2030. Saat ini, kapasitas data center yang sudah beroperasi mencapai sekitar 580 megawatt (MW), dengan tambahan potensi kapasitas 1,3 GW yang belum terealisasi.
Menurut Elandry, rantai manfaat AI mengalir dari GPU, data center, listrik, fiber, cooling, konstruksi, hingga aplikasi. Indonesia memang tidak memiliki eksposur besar di sisi produsen GPU maupun hyperscaler global.
"Tetapi punya peluang menjadi lokasi fisik tempat compute tersebut dijalankan," ujarnya.
Kebutuhan Listrik dan Pendingin Data Center AI Jauh Lebih Besar
Pendiri komunitas pasar saham Cuan Bagger sekaligus Stock Market Analyst CNBC Indonesia, Susi Setiawati, menyoroti kebutuhan infrastruktur yang jauh lebih besar untuk server berbasis GPU. Server AI menghasilkan panas tinggi sehingga kebutuhan pendinginan per rak mencapai 100-200 kilowatt (kW), jauh di atas data center konvensional yang hanya 10-35 kW per rak.
"Jadi, boom AI = boom kebutuhan listrik + data center + jaringan + pendingin," tulis Susi dalam unggahan Instagram-nya.
Ia juga menilai Indonesia berpeluang menjadi tujuan relokasi investasi data center. Pembangunan pusat data di Singapura yang menghadapi keterbatasan lahan dan energi membuat sebagian investasi mengalir ke Malaysia dan kini semakin banyak mengarah ke Indonesia.
Emiten Penerima Manfaat: DCII, EDGE, DSSA, ISAT
Dari sisi emiten, Susi menempatkan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dan PT Indointernet Tbk (EDGE) sebagai pure play yang paling mudah dikaitkan dengan pertumbuhan pusat data. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga dinilai menarik karena memiliki kombinasi eksposur data center dan energi.
PT Indosat Tbk (ISAT) disebut memiliki eksposur langsung terhadap pertumbuhan infrastruktur AI. AI Factory yang akan dibangun di Batang, Jawa Tengah, membutuhkan konektivitas berkapasitas tinggi dan latency rendah. Indosat juga memperkuat infrastruktur fiber melalui FiberCo.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai tren AI sebaiknya tidak dipandang sebagai tema saham teknologi semata. "Ini lebih tepat dipandang sebagai capex supercycle untuk digital infrastructure," kata Nafan.
Menurutnya, setiap tambahan GPU akan membutuhkan kapasitas pusat data. Data center kemudian membutuhkan pasokan listrik, fiber, cooling, konstruksi, cloud, dan konektivitas. Dalam rantai tersebut, listrik dan fiber menjadi komponen strategis yang berpotensi menjadi bottleneck ketika permintaan komputasi meningkat pesat.
Investasi mengandung risiko.