SUMATERA SELATAN — Peneliti keamanan dengan nama samaran 0x50594m mempublikasikan temuan celah keamanan pada firmware modem empat varian chipset Unisoc. Eksploitasi ini dapat memberi akses root penuh kepada penyerang cukup dengan mengirimkan kode berbahaya melalui panggilan video. Temuan ini diunggah di SSD Secure Disclosure dan menjadi peringatan bagi pengguna ponsel entry-level.
Empat Chipset Unisoc yang Terdampak
Celah keamanan ini berada pada lapisan firmware modem dari empat system-on-chip (SoC) buatan Unisoc, yakni T612, T616, T606, dan T7250. Chipset tersebut umum ditemukan di ponsel murah dari berbagai merek, termasuk Xiaomi, Realme, dan Motorola.
Unisoc sendiri merupakan pemain besar di industri chip, menempati posisi keempat di bawah MediaTek, Qualcomm, dan Apple. Produknya tidak hanya dipakai di ponsel, tetapi juga perangkat IoT dan smart home.
Skema Serangan dan Dampaknya
Metode serangan terbilang sederhana dari sisi korban. Penyerang cukup memulai panggilan video ke target dari ponsel mana pun. Kode berbahaya dikirim melalui pesan setup panggilan, yang kemudian dieksekusi di modem dan membuka akses ke seluruh memori perangkat.
Dalam laporannya, SSD Secure Disclosure menyebut masalah ini sebagai "Improper Isolation of Shared Resources on System-on-a-Chip". Penyerang yang berhasil mengeksekusi kode di modem bisa membaca dan menulis seluruh ruang memori dengan menonaktifkan proteksi Memory Protection Unit (MPU) pertama.
Kondisi Khusus yang Membatasi Risiko
Meski terdengar serius, eksploitasi ini tidak mudah dilakukan di dunia nyata. Peneliti menguji serangan pada tiga perangkat yang sudah di-root, yaitu Realme C33, Xiaomi Redmi A5, dan Motorola E13. Perangkat yang di-root memiliki proteksi keamanan yang lebih lemah dibanding ponsel standar.
Pengujian juga dilakukan di jaringan VoLTE tertutup, bukan jaringan operator komersial. Ketiga ponsel uji juga menjalankan patch keamanan yang sudah usang—Redmi A5 memakai patch Januari 2026 dan Motorola E13 memakai patch Februari 2025—sementara pembaruan Android terakhir yang terpasang adalah versi Juli 2025.
Kombinasi perangkat di-root, jaringan khusus, dan patch lama membuat serangan ini sulit direplikasi pada ponsel milik pengguna umum yang tidak di-root dan memakai jaringan operator reguler.
Respons Unisoc dan Implikasinya
Hingga laporan ini ditulis, Unisoc belum memberikan tanggapan resmi atas temuan kerentanan tersebut. Ketiadaan respons ini menjadi catatan tersendiri mengingat chipset Unisoc banyak digunakan pada ponsel harga terjangkau yang populer di pasar berkembang.
Bagi pengguna ponsel dengan chipset Unisoc, langkah paling praktis adalah memastikan perangkat selalu menjalankan pembaruan keamanan terbaru dan menghindari proses root. Meskipun celah ini membutuhkan kondisi yang sangat spesifik untuk dieksploitasi, pembaruan sistem tetap menjadi pertahanan terbaik terhadap berbagai vektor serangan lain yang lebih mudah dieksekusi.