SUMATERA SELATAN — Jatimnet.com melaporkan hasil polling Kumparan yang mengungkap fakta menarik tentang perilaku konsumen roda dua di Indonesia. Meski pemerintah kembali mengucurkan insentif Rp5 juta per unit pada 2026, mayoritas responden belum juga yakin beralih ke motor listrik. Data ini menjadi sinyal bagi industri bahwa strategi penurunan harga saja tidak lagi cukup untuk mendongkrak penjualan.
Biaya Jangka Panjang Jadi Penghalang Baru
Setelah harga beli mulai kompetitif berkat subsidi, konsumen kini menggeser fokus ke total biaya kepemilikan. Pertanyaan kritis mulai bermunculan: berapa lama usia pakai baterai, berapa biaya ganti ketika performanya menurun, dan bagaimana prosedur servisnya. Faktor-faktor ini menjadi krusial karena kendaraan dipakai untuk aktivitas harian seperti bekerja dan sekolah.
Ketidakjelasan informasi soal biaya perawatan jangka panjang membuat sebagian besar calon pembeli memilih wait and see. Kelompok ini diwakili oleh 21,05 persen responden yang mengaku subsidi membantu, tapi masih butuh pertimbangan lebih matang.
Kebiasaan Isi Bensin 5 Menit vs Cas Baterai Semalaman
Indonesia memiliki lebih dari 130 juta sepeda motor yang beroperasi—salah satu populasi terbesar dunia. Setiap tahun, angka ini bertambah sekitar enam juta unit. Selama puluhan tahun, pengguna terbiasa mengisi bensin dalam hitungan menit dan mendapat layanan bengkel di hampir setiap sudut kota.
Motor listrik membutuhkan perubahan kebiasaan yang fundamental: memahami pola pengisian daya, karakteristik baterai, dan jadwal perawatan yang berbeda. Perubahan perilaku ini terbukti lebih lambat dari kecepatan perkembangan teknologi itu sendiri.
Produsen Masih Optimis, Penjualan Awal 2026 Naik
Meski polling menunjukkan keraguan konsumen, data industri justru memperlihatkan sinyal positif. Berdasarkan Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT) dari AISMOLI, unit motor listrik yang terdaftar pada Januari 2026 mencapai 3.565 unit dan Februari 2026 sebanyak 3.066 unit. Angka ini lebih tinggi dibanding periode sama tahun lalu yang masing-masing 2.103 unit dan 2.158 unit.
Peningkatan SRUT menandakan produsen masih aktif meluncurkan produk baru. Mereka melihat potensi pertumbuhan jangka panjang, meski tantangan mengubah minat menjadi keputusan pembelian masih terbentang lebar.
Subsidi Rp5 Juta vs Kenyataan 63.146 Unit Terjual
Data AISMOLI mencatat penjualan motor listrik nasional 2024 mencapai 63.146 unit—melonjak 447 persen dari 11.532 unit pada 2023. Angka ini membuktikan bahwa subsidi memang ampuh mendorong pasar. Namun, polling terbaru menunjukkan bahwa setelah hambatan harga mulai teratasi, muncul lapisan pertanyaan baru yang tidak bisa dijawab hanya dengan menambah nominal insentif.
Kepercayaan konsumen terhadap keandalan baterai, ketersediaan suku cadang, dan jaringan servis kini menjadi medan pertempuran baru bagi pabrikan motor listrik di Indonesia.