PALEMBANG — Efek pemulihan industri otomotif global mulai terasa langsung di perkebunan karet Sumatera Selatan. Data APKARINDO Sumsel mencatat, harga karet KKK 100 persen naik konsisten selama lima hari bursa hingga mencapai Rp38.454 per kilogram pada 8 Mei 2026.
Angka ini naik signifikan dari posisi Rp37.141 per kilogram pada awal pekan yang sama. Kenaikan Rp1.313 dalam sepekan menjadi kabar paling dinanti petani setelah harga sempat tertekan dalam beberapa bulan terakhir.
Mengapa Harga Karet Tiba-Tiba Melonjak?
Sekretaris Jenderal DPW APKARINDO Sumsel, Rudi Arpian, menyebut permintaan industri ban global sebagai pemicu utama. Pabrikan ban di China dan India meningkatkan produksi seiring pulihnya sektor otomotif di dua negara tersebut.
"Permintaan global masih lebih tinggi dibanding produksi. Industri otomotif terutama di China dan India mulai pulih sehingga kebutuhan bahan baku ban meningkat," ujarnya, Senin (11/5/2026).
Faktor lain yang ikut mendorong adalah harga minyak mentah dunia yang masih tinggi. Kondisi ini membuat karet sintetis lebih mahal diproduksi, sehingga pabrikan beralih ke karet alam sebagai substitusi. Harga karet sintetis sempat menyentuh 13.783 yuan per ton pada Maret lalu.
Regulasi EUDR dan Gangguan Produksi Perkuat Tren
Rudi menambahkan, implementasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) turut mempengaruhi dinamika pasar. Sejumlah industri mulai melakukan pembelian stok lebih awal untuk mengantisipasi potensi pembatasan pasokan dari negara produsen.
Di sisi suplai, produksi karet di Indonesia, Thailand, dan Malaysia terganggu akibat curah hujan tinggi. Aktivitas penyadapan getah di sejumlah wilayah belum berjalan optimal, membuat pasokan global semakin ketat.
"Pasokan saat ini masih cukup ketat. Itu membuat buyer berani mengambil posisi dengan harga lebih tinggi," jelas Rudi.
Berapa Lama Kenaikan Ini Bertahan?
APKARINDO Sumsel menilai, tren kenaikan harga masih berpotensi berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. Selama permintaan otomotif tetap kuat dan produksi global belum pulih sepenuhnya, harga karet diperkirakan masih bertahan di level tinggi.
Bagi petani karet di Sumsel, momentum ini menjadi peluang untuk memperbaiki pendapatan setelah beberapa tahun terakhir menghadapi fluktuasi harga yang cenderung rendah. Namun, mereka juga diingatkan untuk tidak serta-merta memperluas penyadapan secara berlebihan demi menjaga produktivitas jangka panjang.