SUMATERA SELATAN — Chairman Toyota, Akio Toyoda, secara blak-blakan mengakui adanya "sense of crisis" yang meluas di internal perusahaan. Pengakuan ini disampaikan dalam wawancara khusus dengan NHK yang tayang pada Minggu (19/7). Toyoda menyebut Corolla sebagai simbol Toyota, dan pengembangan versi listriknya menjadi kunci untuk mempertahankan posisi sebagai pabrikan mobil terlaris dunia.
Bukan Sekadar Corolla Listrik, Tapi Platform Serbaguna
Berbeda dengan pendekatan Tesla yang mengandalkan platform khusus EV (skateboard), Toyota memilih jalur yang lebih pragmatis. Generasi baru Corolla ini akan menggunakan platform anyar yang dirancang untuk mengakomodasi baterai EV, plug-in hybrid, hybrid konvensional, hingga mesin pembakaran internal (ICE).
"Apapun sumber tenaganya—baik itu baterai EV, plug-in hybrid, hybrid, atau ICE—mari kita buat mobil yang tampilannya bagus dan semua orang ingin mengendarainya!" ujar CEO Koji Sato saat memperkenalkan konsep Corolla di Japan Mobility Show tahun lalu.
Kekhawatiran di Internal: Kalah Cepat dari China
Yang menarik dari liputan NHK adalah pengakuan jujur para insinyur Toyota. Salah satu engineer yang diwawancarai mengaku, "Saya pikir kita kalah dari China," ketika ditanya soal posisi kompetitif Toyota. Pernyataan ini mencerminkan tekanan besar yang dirasakan langsung oleh tim pengembang.
BYD, yang sudah berhenti memproduksi mobil bermesin ICE murni sejak 2022, kini menjadi ancaman serius. CEO BYD, Wang Chuanfu, bahkan memprediksi perusahaannya akan menjadi nomor satu global dalam skala penjualan dalam lima tahun ke depan. Toyota sendiri masih menjadi pabrikan terbesar di 2025, tapi momentum mulai bergeser.
Desain Sporty dan Inovasi yang Dijanjikan
Prototipe Corolla EV yang tertangkap kamera di fasilitas pengembangan hampir identik dengan konsep yang diperkenalkan tahun lalu. Siluetnya rendah dengan hidung depan mirip mobil sport—jauh dari kesan Corolla generasi sebelumnya yang cenderung konservatif. Sato menjanjikan generasi baru ini "dikemas dengan inovasi," meski detail spesifik masih dirahasiakan.
Kritik dari Pengamat: Platform Kompromi di Era EV?
Langkah Toyota ini menuai kritik. Seorang komentator di Electrek, yang mengaku mantan karyawan OEM, menyebut platform yang mendukung banyak jenis powertrain sebagai "platform kompromi." Menurutnya, pendekatan seperti ini sudah ketinggalan zaman karena tidak bisa memaksimalkan keunggulan EV murni, seperti ruang kabin yang lega atau pusat gravitasi rendah.
"Melakukan hal lain selain platform EV murni di tahun 2026 hanya menunjukkan seberapa jauh mereka tertinggal," tulisnya. Meski demikian, strategi multi-powertrain ini mungkin justru cocok untuk pasar seperti Indonesia yang infrastruktur EV-nya belum merata.
Nasib Proyek EV Flagship Lain
Kabar ini muncul setelah Toyota membatalkan Lexus LF-ZC, EV flagship yang sempat diharapkan membawa teknologi baterai dan metode manufaktur terbaru. Keputusan itu menambah daftar panjang penundaan transisi Toyota ke kendaraan listrik murni. Saat ini, lini EV Toyota masih mengandalkan model seperti bZ4X dan C-HR+ yang merupakan hasil adaptasi dari platform yang ada.
Belum ada tanggal pasti kapan Corolla EV generasi baru akan resmi meluncur. Namun, dengan prototipe yang sudah mulai diuji, publikasi teknis dan bocoran spesifikasi diperkirakan akan muncul dalam beberapa bulan ke depan.