PALEMBANG — Delapan rumah mungil berukuran 6x12 meter di kompleks Gandus Land City, Kecamatan Gandus, Palembang, Sumatera Selatan, berdiri sunyi di tengah semak belukar yang mulai meninggi. Cat bangunan memudar, pepohonan menjulang menutupi sebagian atap, dan tak ada tanda-tanda aktivitas penghuni. Padahal, proyek ini pernah digadang sebagai percontohan perumahan subsidi berenergi terbarukan di Indonesia.
Ambisi besar itu terlihat dari sisa-sisa instalasi di atap rumah. Panel surya yang sebelumnya menjadi simbol proyek, kini raib dari delapan unit yang sempat berdiri. Dari target pembangunan 500 unit, hanya segelintir rumah yang rampung dan seluruhnya terbengkalai.
Ambisi Rumah Cetak Rp 110 Juta yang Meredup
Proyek ini lahir dari situasi sulit saat pandemi Covid-19. Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) terhenti, sehingga Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan berinovasi membangun rumah cetak berkolaborasi dengan PT Semen Indonesia Group (SIG).
Konsepnya cukup revolusioner. Rumah tidak hanya murah, tetapi juga dilengkapi panel surya (PLTS Atap) berukuran 1x1,5 meter yang terhubung ke jaringan PLN atau On Grid. Energi yang dihasilkan diperkirakan mencapai 1.000 hingga 1.500 watt, mampu menekan konsumsi listrik rumah tangga hingga 40 persen. Sebagian pembeli bahkan dijanjikan kompor induksi.
Harganya pun lebih miring dari rumah subsidi pada umumnya. "Harganya itu sekitar Rp 110 juta per unit kalau tidak salah," ujar Asisten II Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Pemprov Sumsel, Basyaruddin Akhmad.
Sengketa di MA Menghentikan Pembangunan
Alih-alih menjadi kawasan hunian modern, proyek ini justru mangkrak. Basyaruddin, yang saat proyek digagas menjabat Kepala Dinas PUCK Sumsel, mengungkapkan penghentian pembangunan bukan karena lahan bermasalah. "Lahan pengembang ini sudah clear and clean," tegasnya.
Masalah muncul setelah delapan rumah berdiri. "Proyek perumahan ini terpaksa tidak dilanjutkan karena sengketa, dan infonya masih proses di MA (Mahkamah Agung)," ungkapnya.
Sebelumnya, proyek ini sempat menarik perhatian banyak pihak. Bank Dunia ikut mendukung pengembangan Green Housing, dan berbagai pihak ketiga turut membantu, termasuk penanaman seribu pohon di kawasan tersebut.
Nasib Rumah Subsidi dan Masa Depan Hunian Hijau
Kini, bangunan kosong itu perlahan rusak dimakan usia. Fasilitas panel surya yang menjadi daya tarik utama proyek juga hilang dari atap rumah.
Kandasnya proyek Gandus Land City menjadi ironi di tengah gencarnya pemerintah mendorong transisi energi di sektor perumahan. Konsep yang diusung sebenarnya menjawab dua masalah sekaligus: keterjangkauan harga rumah bagi MBR dan kebutuhan akan energi bersih.
Basyaruddin mengaku konsep yang diusung perumahan ini sebenarnya cukup revolusioner. Tidak sekadar menyediakan rumah murah, proyek ini dirancang menjadi contoh implementasi transisi energi di sektor perumahan. Namun, sengketa yang tak kunjung selesai memupus harapan itu, meninggalkan delapan rumah sunyi yang menjadi saksi bisu ambisi yang kandas. (Bersambung)