LAHAT — Wakil Gubernur Sumatera Selatan Cik Ujang kembali menunjukkan sisi sederhananya saat pulang ke kampung halaman di Desa Lebak Budi, Kecamatan Merapi, Kabupaten Lahat. Ia tidak hanya hadir sebagai pejabat, tetapi ikut bergotong royong mengolah daging kurban dan memasak bersama ibu-ibu di dapur warga, Sabtu (30/5/2026).
Puluhan warga Desa Lebak Budi tampak antusias menyambut kedatangan putra daerah yang kini menjabat sebagai Wagub Sumsel tersebut. Suasana akrab langsung terasa sejak awal acara, tanpa sekat antara pejabat dan masyarakat.
Bukan Sekadar Seremonial, Wagub Ikut ke Dapur Warga
Momen yang paling mencuri perhatian adalah saat Cik Ujang ikut membantu proses pengolahan daging kurban di halaman rumah warga. Ia terlihat akrab berbincang dengan ibu-ibu sambil menyiapkan masakan, sebuah pemandangan yang jarang terjadi dalam kunjungan pejabat daerah.
"Kegiatan ini bukan sekadar seremonial. Saya ingin merasakan langsung suasana kebersamaan di kampung halaman, berbagi cerita, dan ikut bergotong royong seperti dulu," ujar Cik Ujang di sela kegiatan.
Putra Daerah yang Tak Lupa Asal-usul
Cik Ujang dikenal sebagai pemimpin yang lahir dan besar di Desa Lebak Budi. Latar belakangnya sebagai putra daerah membuat ia memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan masyarakat Sumsel, khususnya di kampung halamannya.
Bagi warga Merapi, kehadiran Cik Ujang bukan sekadar kunjungan pejabat, melainkan pertemuan dengan sosok yang tetap rendah hati meski kini mengemban amanah sebagai Wakil Gubernur Sumsel. Gaya kepemimpinannya yang membumi membuat ia kerap disapa langsung tanpa sekat.
Daging Kurban Dibagikan ke Masyarakat Merapi
Daging kurban yang telah diolah kemudian disalurkan dan dibagikan kepada masyarakat di Kecamatan Merapi. Warga mengaku terkesan dengan sikap Wagub yang mau berbaur dan memasak bersama, meninggalkan kesan mendalam yang jarang mereka temui.
Dalam kesempatan itu, Cik Ujang menegaskan bahwa momentum Idul Adha menjadi pengingat akan nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai itu, katanya, harus terus dijaga dalam kehidupan bermasyarakat, terutama di tingkat desa.
"Kesederhanaan dan silaturahmi adalah kekuatan. Kalau pemimpin dekat dengan rakyatnya, maka pembangunan dan kebersamaan akan lebih mudah terwujud," tutupnya.