PALEMBANG — Madam Atie, Ketua TUW Sumsel, bersama Madam Merry dan Madam Icha, langsung memegang gunting dan lem tembak saat memandu peserta workshop. Mereka mengajarkan teknik dasar menggabungkan dua lakban bekas dengan lem hingga menyatu kuat, lalu menempelkan kain perca yang sudah dipotong sesuai pola.
“Bersama TUW kita ciptakan karya berdaya dan berdampak,” kata Madam Atie di sela kegiatan, Senin lalu.
Bahan yang digunakan sederhana: lakban sisa packing, kain perca, lem fox atau lem tembak, gunting, dan aneka aksesoris pelengkap. Prosesnya butuh ketelatenan, tetapi hasilnya—menurut para mentor—bisa bersaing di pasar lokal.
Mengapa Limbah Lakban dan Kain Perca Dipilih?
Pemilihan bahan baku bukan tanpa alasan. Lakban bekas packing dan kain perca termasuk limbah yang paling banyak dihasilkan rumah tangga dan industri rumahan di Palembang. Selama ini, kedua bahan tersebut kerap berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa diolah kembali.
TUW Sumsel melihat celah ekonomi di sana. Dengan teknik lipat dan rekat yang tepat, lakban yang biasanya lengket dan sulit diurai bisa berubah menjadi struktur dasar dompet atau pouch yang kokoh. Kain perca kemudian berfungsi sebagai lapisan estetik yang membuat produk terlihat premium.
Target: Perempuan Melek Ekonomi Sirkuler
Workshop ini merupakan bagian dari rangkaian Jambore UMKM Forketas Sumsel 2026 yang mengusung semangat “Kreasi Tanpa Sisa”. Para peserta tidak hanya diajak membuat kerajinan, tetapi juga dibekali cara menghitung modal, menentukan harga jual, hingga memasarkan produk secara digital.
“Kami ingin perempuan di Sumsel tidak hanya jadi konsumen, tapi juga produsen yang bisa menghasilkan uang dari barang yang selama ini dibuang,” ujar Madam Atie.
Komunitas TUW Sumsel sendiri bergerak di tiga bidang utama: fashion, kuliner, dan kriya. Selama ini, mereka rutin mengadakan pelatihan serupa di berbagai kelurahan di Palembang dan sekitarnya.
Produk Daur Ulang yang Punya Daya Saing
Menurut Madam Merry yang aktif di bidang fashion, produk daur ulang dari lakban dan kain perca memiliki keunggulan tersendiri. Selain ramah lingkungan, produk-produk ini unik karena tidak ada dua barang yang persis sama—setiap potongan kain perca menghasilkan motif berbeda.
“Kalau dijual di bazar UMKM atau platform daring, harganya bisa mulai Rp 25 ribu hingga Rp 100 ribu tergantung kerumitan dan ukuran,” jelasnya.
Ke depan, TUW Sumsel berencana menggandeng lebih banyak ibu rumah tangga dan pelaku UMKM pemula di Sumatera Selatan. Mereka ingin gerakan daur ulang ini tidak berhenti di workshop, tetapi menjadi kebiasaan yang menggerakkan ekonomi warga.