SUMATERA SELATAN — Gagasan ini lahir dalam dialog hangat antara Mentan Amran dan Asosiasi Mahasiswa Papua Indonesia di kediamannya. Para mahasiswa yang datang dari Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Barat, Papua Barat Daya, dan Papua Induk memaparkan potensi besar daerahnya. Mulai dari ubi jalar, sagu, pala, kakao, kopi, hingga peternakan disebut sebagai komoditas unggulan yang selama ini belum tergarap maksimal.
Mahasiswa Jadi Motor Penggerak, Bukan Sekadar Penonton
Mentan Amran menegaskan bahwa mahasiswa adalah kunci utama pembangunan pertanian di Bumi Cenderawasih. “Kalian adalah putra-putri terbaik Tanah Papua. Kalian yang bisa mengangkat ekonomi Papua karena memiliki pengetahuan, kecerdasan, dan lahan yang harus dibangun,” ujarnya di hadapan peserta dialog.
Ia mendorong mahasiswa yang masih memiliki lahan keluarga untuk mulai mengelolanya sejak sekarang. “Begitu lulus kuliah, pendapatannya bisa lebih tinggi daripada pegawai,” tegasnya. Contoh nyata diberikan kepada Anton, seorang mahasiswa yang telah memiliki lahan tujuh hektare dan membina kelompok tani di kampung halamannya. Mentan Amran langsung menambah dukungan pengembangan lahan seluas lima hektare untuknya.
Dukungan Langsung: 100 Hektare Kopi dan Alat Pertanian untuk Papua
Tak hanya wacana, pemerintah langsung bergerak. Mentan Amran memutuskan menambah bantuan pengembangan kopi seluas 100 hektare bagi kelompok petani muda Papua Pegunungan. Sebelumnya, mereka telah membuka lahan kopi seluas 48 hektare. Selain itu, pemerintah menyiapkan alat pertanian seperti linggis, sekop, dan parang untuk mendukung pengembangan pangan lokal, khususnya ubi jalar di Papua Tengah dan Papua Pegunungan.
“Untuk Papua Pegunungan dan Papua Tengah, kita siapkan bantuan alat pertanian sesuai kebutuhan karena komoditas utamanya adalah ubi. Ini menjadi program khusus untuk memperkuat pengembangan pangan lokal,” kata Mentan Amran.
Bukan Hanya Ekonomi, Ini Gerakan Budaya
Ketua Komite Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Velix Wanggai, menilai Gerakan Kembali Berkebun memiliki dimensi yang lebih dalam. “Gerakan kembali ke kebun bukan hanya gerakan ekonomi, tetapi juga gerakan budaya. Kita ingin menghidupkan kembali komoditas-komoditas lokal yang menjadi bagian dari budaya luhur masyarakat Papua,” ujarnya.
Velix menambahkan bahwa tanah adat harus menjadi sumber kesejahteraan bagi generasi sekarang dan masa depan. Setiap wilayah Papua, menurutnya, memiliki keunggulan komoditas yang berbeda dan harus dikelola sesuai potensi lokal.
Sementara itu, Ronaldo Jakub Inesta, mahasiswa asal Papua Barat Daya, mengapresiasi respons cepat Mentan Amran. “Kesempatan seperti ini sangat baik karena jarang sekali mahasiswa bisa berdialog langsung dengan seorang menteri. Kami bisa menyampaikan potensi daerah kami masing-masing,” katanya.
Gerakan Kembali Berkebun ini menjadi sinyal bahwa pemerintah serius membangun ekonomi dari desa dan dari tanah sendiri. Dengan melibatkan mahasiswa sebagai agen perubahan, diharapkan lahir generasi muda Papua yang tak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi di kampung halamannya.