SUMATERA SELATAN — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memproyeksikan pengembangan ekosistem bioenergi dapat membuka sekitar 150.000 lapangan kerja hijau dari pemanfaatan 10 juta ton biomassa. Proyeksi itu disampaikan Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir dalam keterangan pers, Kamis (24/9/2026). Peluang ini menyebar di sepanjang rantai pasok, dari petani hingga penyedia jasa logistik.
Hokkop menyebut angka 150.000 lapangan kerja hijau itu bukan hitungan jangka panjang. Menurut dia, pemanfaatan 10 juta ton biomassa saja sudah cukup untuk memicu gelombang pekerjaan baru di sektor energi terbarukan.
"Green job yang tercipta dari 10 juta ton saja itu bisa mencapai sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau baru," kata Hokkop dalam keterangan pers, Kamis (24/9/2026).
Siapa Saja yang Kebagian Kerja
Rantai pasok bioenergi menyerap tenaga kerja lintas lapisan. Hokkop menyebut petani, koperasi, BUMDes, pelaku usaha, agregator, hingga penyedia jasa logistik sebagai pihak yang terlibat langsung.
Artinya, dampak ekonomi tidak menumpuk di kota besar. Daerah penghasil bahan baku biomassa berpeluang merasakan efek berganda lebih dulu, mulai dari penjualan residu pertanian sampai jasa angkut.
Potensi 60,6 Juta Ton yang Belum Tergarap
Indonesia punya sumber biomassa beragam: kayu, residu pertanian, sekam padi, sampai sumber hayati lain. Pemetaan PLN EPI mencatat pemanfaatan biomassa saat ini sekitar 30,7 juta ton.
Sementara potensi yang belum termanfaatkan diperkirakan 60,6 juta ton. Angka itu masih indikatif dan bergantung pada aspek teknis, keekonomian, aksesibilitas bahan baku, serta kesiapan rantai pasok.
Realisasi 2023-2026 dan Produk Turunannya
Sepanjang periode 2023-2026, PLN EPI merealisasikan penyediaan biomassa 4,77 juta ton. Pasokan untuk kebutuhan cofiring masih didominasi biomassa berbasis kayu, dengan porsi lebih dari 77 persen.
Pengembangan bioenergi tidak berhenti di biomassa. PLN EPI memperluas cakupan ke biochar, syngas, biohidrogen, compressed biogas (CBG), biofuel, dan bioetanol. Produk-produk itu menyasar cofiring, substitusi bahan bakar diesel, kebutuhan industri, hingga pengembangan bahan bakar berkelanjutan.
Dari sisi iklim, pemanfaatan 10 juta ton biomassa diproyeksikan menekan emisi sekitar 12 juta ton CO2e. Angka itu menjadi salah satu alasan bioenergi masuk keranjang transisi energi nasional.
Bagi PLN EPI, tantangannya bukan cuma menyediakan bahan baku. Rantai pasok harus siap menampung volume besar, dan skema cofiring perlu pasokan yang stabil sepanjang tahun. Jika terealisasi, 150.000 lapangan kerja hijau itu bisa menjadi salah satu dampak sosial terbesar dari program transisi energi Indonesia.