SUMATERA SELATAN — Festival yang digelar di Jakarta itu menyatukan 150 pelaku UMKM binaan, perbankan, dan platform digital dalam satu ekosistem. Menko Airlangga menyebut tiga pilar utama dalam strategi ini: perluasan kredit usaha rakyat (KUR), pendampingan sertifikasi halal dan produk, serta integrasi ke pasar daring. "Kami ingin UMKM tidak hanya bertahan, tapi punya daya saing di pasar regional," ujarnya dalam sambutan.
Skema Pembiayaan dan Target Sektor Prioritas
Pemerintah mengalokasikan plafon KUR 2025 sebesar Rp 300 triliun, naik 12 persen dari tahun sebelumnya. Sektor prioritas meliputi pangan, fesyen, dan kerajinan—tiga subsektor yang menyerap tenaga kerja terbanyak. Airlangga menambahkan, bunga KUR mikro tetap dipertahankan di angka 6 persen per tahun untuk menjaga daya beli pengusaha kecil.
Selain perbankan, festival ini juga mempertemukan UMKM dengan tiga platform e-dagang utama. Mereka mendapat pelatihan foto produk, manajemen stok, dan strategi harga kompetitif. "Digitalisasi bukan pilihan, tapi keharusan. Pasar sudah bergeser ke genggaman tangan," kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Moga Simatupang, di sela acara.
Kendala Sertifikasi dan Pendampingan Teknis
Kendati optimistis, pemerintah mengakui masih ada pekerjaan rumah berat. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan baru 18 persen UMKM memiliki nomor induk berusaha (NIB) dan 12 persen bersertifikat halal. Tanpa dua dokumen itu, produk sulit masuk ritel modern dan pasar ekspor.
Festival ini menyediakan gerai satu atap untuk pengurusan NIB, sertifikat halal, dan merek dagang secara gratis. Sebanyak 50 tenaga pendamping dari dinas koperasi provinsi disiagakan untuk membantu pengisian dokumen. "Kami targetkan 5.000 NIB terbit selama tiga hari festival," ujar Kepala Dinas Koperasi DKI Jakarta, Andi Yusuf.
Strategi Pemasaran dan Jejaring Usaha
Pemerintah juga menggandeng 20 perusahaan swasta sebagai off-taker produk UMKM. Mereka berkomitmen menyerap minimal 10 persen dari total produksi peserta festival untuk kebutuhan korporasi. Langkah ini diharapkan memutus rantai tengkulak yang kerap menekan harga di tingkat produsen.
Airlangga menekankan, program ini tidak berhenti di seremonial. Setiap peserta festival akan dipantau selama enam bulan ke depan melalui aplikasi SIPUMA—sistem informasi pemantauan UMKM aktif. "Kami ingin data riil: berapa omzet naik, berapa tenaga kerja tambahan, bukan sekadar foto di panggung," tegasnya.
Festival Kemudahan dan Pelindungan Usaha Mikro akan berlangsung hingga Minggu (15/9) di Hall A Jakarta Convention Center. Pemerintah berencana menggelar acara serupa di lima kota besar lainnya sebelum akhir tahun.