Pencarian

NASA Rilis Cetak Biru Base Camp di Kutub Selatan Bulan, Dimulai dengan Uji Coba Pendarat Blue Origin Akhir 2026

Rabu, 27 Mei 2026 • 17:23:01 WIB
NASA Rilis Cetak Biru Base Camp di Kutub Selatan Bulan, Dimulai dengan Uji Coba Pendarat Blue Origin Akhir 2026
NASA mempersiapkan base camp di Kutub Selatan Bulan dengan uji coba pendarat Blue Origin pada 2026.

SUMATERA SELATAN — Selama berminggu-minggu, NASA bungkam soal masa depan program Artemis. Kini, agensi tersebut buka suara dengan rencana yang lebih membumi—secara harfiah. Alih-alih membangun stasiun orbit bernama Gateway, NASA memilih memusatkan seluruh sumber daya untuk membangun base camp di permukaan Bulan. Keputusan ini diambil pada awal 2026 untuk memangkas biaya operasional dan mempercepat jadwal pendaratan astronot.

Dari Stasiun Orbit ke Permukaan: Mengapa NASA Berubah Haluan?

Gateway, yang dirancang sebagai stasiun orbit mirip ISS, sempat menjadi prioritas utama. Namun, NASA menilai strategi itu terlalu rumit dan mahal untuk hasil yang lambat. Dengan mengalihkan fokus ke permukaan Bulan, agensi ini bisa menguji langsung teknologi yang dibutuhkan untuk misi berawak ke Mars di masa depan.

“Setiap misi, baik berawak maupun tidak, akan menjadi kesempatan belajar saat kita kembali ke permukaan Bulan, membangun infrastruktur untuk tinggal di sana, dan menguasai keterampilan yang diperlukan untuk hidup di lingkungan paling ekstrem,” kata administrator NASA, Jared Isaacman, dalam pernyataan resmi.

Tiga Fase Menuju Pangkalan Tetap di Bulan

Rencana NASA terbagi dalam tiga fase. Fase pertama berlangsung dari 2026 hingga 2029, dan akan menjadi yang paling sibuk. Agensi menargetkan setidaknya 25 misi dengan 21 pendaratan di permukaan Bulan. Isinya bukan astronot, melainkan robot, drone, dan reaktor nuklir mini.

Salah satu misi kunci adalah uji terbang Blue Moon Mark 1 Endurance milik Blue Origin pada musim gugur 2026. Modul pendarat ini akan menguji kemampuan navigasi dan pendaratan presisi tanpa awak. Jika sukses, Blue Origin berencana meluncurkan versi berawak, Blue Moon Mark 2, pada 2028.

Dua misi lain yang juga akan meluncur pada 2026 adalah Moon Base II dan III. Misi pertama akan mengirimkan rover untuk menguji operasi kendaraan jarak jauh yang lebih kompleks. Misi kedua membawa instrumen ilmiah untuk mempelajari bagaimana material dan sistem bertahan di bawah kondisi ekstrem Bulan—suhu yang bisa turun hingga -230 derajat Celcius di kawah yang gelap abadi.

Infrastruktur Semi-Permanen Mulai 2029

Memasuki fase kedua pada 2029, NASA akan mulai merakit infrastruktur semi-permanen. Sebanyak 60 ton kargo akan dikirim dalam 24 misi. Isinya termasuk reaktor permukaan untuk pasokan listrik, modul habitat awal, dan jaringan komunikasi yang lebih tangguh.

Fase ketiga adalah skala penuh. NASA membayangkan kutub selatan Bulan akan memiliki modul hunian yang bisa ditinggali, sistem logistik untuk mengangkut kargo dan kru, serta pengiriman rutin 38 ton kargo per tahun untuk perawatan dan perluasan. “Kami pergi ke sana untuk sains, untuk keuntungan ekonomi dan teknologi, dan untuk inovasi yang akan membuat hidup lebih baik di Bumi,” tambah Isaacman.

Relevansi untuk Indonesia: Panggung Baru Kolaborasi Antariksa

Meski terdengar seperti fiksi ilmiah, rencana NASA ini membuka peluang nyata bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Program Artemis memiliki klausul kerja sama internasional yang memungkinkan ilmuwan dari negara mitra untuk mengirimkan muatan sains ke Bulan. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bisa memanfaatkan celah ini untuk riset material, radiasi, atau bahkan astrobiologi.

Namun, pintu itu tidak akan terbuka dengan sendirinya. Diperlukan kesiapan sumber daya manusia dan investasi riset yang serius. Jika Indonesia hanya menjadi penonton, kita akan kembali tertinggal dalam babak baru eksplorasi antariksa global ini.

Bagikan
Sumber: wired.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks