SUMATERA SELATAN — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka menguat tipis 0,03% atau 5 poin ke level Rp17.894 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp17.899. Analis Bank Woori Saudara memproyeksi rupiah bergerak terbatas di kisaran Rp17.870-Rp17.900, ditopang penurunan harga minyak mentah dan pelemahan indeks dolar AS. Namun di pasar spot siang ini, dolar AS berbalik menguat 0,04% ke Rp17.906.
Penguatan rupiah pada pembukaan perdagangan dipengaruhi sentimen global, terutama penurunan harga minyak dan indeks dolar AS. Analis Bank Woori Saudara (BWS) Rully Nova menyebut pergerakan hari ini masih akan terbatas karena pasar menunggu katalis domestik yang lebih kuat.
"Rupiah hari ini diperkirakan menguat tipis pada kisaran Rp17.870-Rp17.900 dipengaruhi oleh (sentimen) global, seperti penurunan harga minyak dan indeks dolar," ucap Rully di Jakarta, melansir Antara.
Harga Minyak Turun, Indeks Dolar AS Terpangkas
Harga minyak mentah berjangka Brent tercatat menurun 0,91% menjadi US$103,95 per barel. Indeks dolar AS (DXY) juga sedikit terpangkas ke 102,2, meski masih bertahan di level penguatan tertinggi dalam 52 pekan terakhir.
Penurunan harga minyak dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait kesepakatan dengan Rusia soal energi. Rusia disebut siap memasok 300 ribu ton solar ke pasar global paling cepat pada Oktober, lalu meningkat menjadi 500 ribu ton pada November, dan 1 juta ton pada Desember.
Dengan eskalasi itu, potensi volume pengiriman solar Rusia bisa mencapai 3 juta ton per bulan. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Trump sebelumnya melakukan pembicaraan melalui telepon, dengan Putin menegaskan kesiapan Rusia memasok minyak dan produk minyak bumi ke pasar AS dan global.
Rusia juga akan segera mencabut pembatasan ekspor solar lebih awal dari jadwal. Setelah pembatasan itu dicabut, pasar domestik Rusia diklaim akan terpenuhi sepenuhnya dengan pasokan solar.
Lelang SRBI Serap Rp30 Triliun, Yield Turun
Dari sisi domestik, lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dinilai masih mampu menjaga stabilitas rupiah. Lelang tersebut menyerap Rp30 triliun dengan yield yang turun menjadi 6,55% untuk tenor 6 bulan, 6,52% untuk 9 bulan, dan 6,68% untuk 12 bulan.
Penurunan yield SRBI menunjukkan permintaan investor terhadap instrumen rupiah masih solid di tengah tekanan eksternal. Instrumen ini menjadi salah satu andalan BI untuk menahan aliran modal keluar dari pasar keuangan domestik.
Dolar AS Berbalik Menguat di Pasar Spot
Data Bloomberg pada pukul 11.19 WIB menunjukkan dolar AS berbalik menguat terhadap rupiah sebesar 0,04% atau 7 poin ke level Rp17.906 per dolar AS. Rentang pergerakan rupiah harian diestimasi berada di kisaran Rp17.879-Rp17.911.
Indeks dolar AS (DXY) pada saat yang sama menurun 0,05% ke 102,16, atau masih terjaga di level penguatan tertinggi di 52 pekan terakhir. Sepanjang setahun terakhir, DXY bergerak di rentang 95,55-102,53.
Sentimen Domestik yang Masih Jadi Perhatian
Rully menambahkan, indeks keyakinan konsumen serta penanganan bencana dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatra masih menjadi perhatian pelaku pasar. Dua faktor itu bisa menahan ruang penguatan rupiah lebih lanjut.
"Namun, indeks keyakinan konsumen serta penanganan bencana dan karhutla (kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatra) masih menjadi perhatian pelaku pasar," ungkap Rully.
Bagi pelaku usaha yang memegang posisi dolar AS, rentang pergerakan yang sempit hari ini membuka ruang untuk mencicil kebutuhan valas tanpa harus menunggu titik terlemah. Sementara eksportir masih punya ruang menahan konversi jika mengharapkan level di atas Rp17.900.