Pencarian

Musim Hujan di Sumsel Mulai November, OKI Baru Awal Desember dan Hotspot Masih 2.426 Titik

Minggu, 04 Oktober 2026 • 07:02:01 WIB
Musim Hujan di Sumsel Mulai November, OKI Baru Awal Desember dan Hotspot Masih 2.426 Titik
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis menyatakan sebagian besar wilayah Sumsel memasuki musim hujan pada November.

PALEMBANG — Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis menyatakan sebagian besar wilayah provinsi itu akan memasuki musim hujan pada November mendatang. Pengecualian berlaku untuk OKI yang diperkirakan baru mulai awal Desember.

Wandayantolis menyebut posisi geografis OKI yang lebih ke selatan dibanding wilayah Sumsel lain sebagai penyebabnya. Letak itu membuat masuknya monsun Asia ke OKI berlangsung lebih lambat dibanding daerah lain di provinsi tersebut.

Mengapa Awal Musim Hujan OKI Lebih Lambat?

Faktor geografis jadi kunci. Menurut Wandayantolis, posisi OKI yang lebih ke selatan memengaruhi waktu kedatangan monsun Asia ke wilayah itu.

"OKI lebih lama karena dari segi posisi lebih ke selatan dari datangnya monsun Asia. Kemudian kondisi topografi dan faktor lokal lainnya," katanya.

Topografi dan kondisi lokal turut memperkuat keterlambatan tersebut. Dua faktor itu membuat awal musim hujan di OKI bergeser sekitar satu bulan dari wilayah Sumsel lainnya.

Hotspot Sumsel Masih 2.426 Titik, OKI Terbanyak

Hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah belum menandai berakhirnya kondisi kering di Sumsel. Data Sipongi mencatat hotspot di provinsi itu masih tinggi.

"Terkait dengan angka hotspot Sumsel kemarin, dari data Sipongi terpantau masih tinggi di angka 2.426 titik. Terpantau hotspot di lahan gambut sebanyak 1.749 titik dan mineral 677 titik," ujar Wandayantolis.

OKI menyumbang titik terbanyak dengan 1.564 titik, terdiri dari 1.095 titik di lahan gambut dan 469 titik di lahan mineral. Musi Banyuasin menyusul dengan 356 titik (311 gambut, 45 mineral), lalu Banyuasin 320 titik (283 gambut, 37 mineral).

Perbandingan dengan El Nino 2023

Wandayantolis membandingkan kondisi kemarau tahun ini dengan fenomena El Nino 2023. Saat itu, musim kemarau di Sumsel berlangsung hingga Oktober dan hotspot tetap tinggi meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah.

"Jika mengacu (dibandingkan) El Nino 2023, kemarau di Sumsel sampai Oktober dan hotspot masih tinggi meski sudah mulai ada hujan," jelasnya.

Pola serupa terlihat tahun ini. Hujan yang turun belum merata, sementara titik panas di lahan gambut masih mendominasi.

Warga Diminta Waspadai Karhutla Selama Masa Peralihan

Masyarakat Sumsel masih perlu mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan selama periode peralihan menuju musim hujan. Lahan gambut di OKI, Musi Banyuasin, dan Banyuasin menjadi wilayah yang paling perlu diawasi.

Pemerintah daerah dan instansi terkait belum merinci langkah penanganan lanjutan dalam keterangan tersebut. Warga diimbau memantau perkembangan informasi cuaca dari Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel seiring masuknya awal musim hujan pada November.

Follow sumseloke.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks