SUMATERA SELATAN — Mecka AI bergerak di bisnis pengumpulan dan analisis data gerakan manusia untuk melatih robot humanoid dan robotika lainnya. Nilai putaran terbaru ini belum diketahui secara pasti, dan syarat kesepakatan masih bisa berubah.
Mecka AI maupun Sequoia Capital sama-sama menolak memberikan komentar atas laporan ini.
Siapa di Balik Mecka AI
Mecka AI didirikan pada 2024 oleh empat entrepreneur. Dua di antaranya, Josh Gao dan Mogen Cheng asal Kanada, sebelumnya membangun startup fintech restoran. Co-founder ketiga, Jason Chong, bergabung ke Coinbase setelah exchange kriptonya diakuisisi. Satu-satunya anggota tim non-Kanada, Duy Nguyen, menangani operasional perusahaan.
Keempat pendiri tidak punya latar belakang robotika. Namun mereka menyadari ada kelangkaan data dunia fisik dan menilai pengumpulan interaksi dunia nyata sebagai hambatan utama yang menahan laju robot serbaguna, termasuk humanoid.
Cara Kerja: Bayar Orang Rekam Aktivitas Harian
Mecka mengambil nama dari "mecha", robot raksasa fiksi yang dikendalikan manusia. Perusahaan ini ingin melakukan untuk robotika apa yang sudah dilakukan Scale AI, Mercor, Surge, dan perusahaan data manusia lain untuk model bahasa besar (LLM).
Caranya, Mecka membayar orang untuk merekam diri mereka saat melakukan tugas sehari-hari, seperti menyeduh kopi atau memperbaiki mobil. Perekaman memakai sensor tubuh dan smartphone. Pendekatan ini disebut "egosentrik" karena data diambil dari sudut pandang orang yang melakukan tugas.
Target Pendapatan dan Pelanggan
Per awal Juni, Mecka memproyeksikan akan menutup 2026 dengan annual run rate US$100 juta (sekitar Rp 1,65 triliun). Angka itu disampaikan Josh Gao kepada Fortune saat perusahaan mengumumkan pendanaan sebelumnya.
Mecka belum mempublikasikan daftar pelanggannya. Meski begitu, banyak perusahaan robotika dan lab AI mengandalkan data dunia nyata yang diambil lewat pendekatan egosentrik, bersama metode pengumpulan data fisik lain seperti teleoperasi, untuk membangun model mereka.
Persaingan di Data Pelatihan Robot
Mecka tidak sendirian di ceruk ini. XDOF, startup pengumpul data dunia nyata untuk pelatihan robot, dilaporkan pekan lalu sedang mendekati putaran baru dengan valuasi US$1,2 miliar (sekitar Rp 19,8 triliun). Platform data manusia seperti Scale AI dan Micro1 juga melebarkan cakupan dari LLM ke data fisik.
Bagi industri robotika, ketersediaan data gerak dan interaksi nyata menjadi penentu seberapa cepat robot humanoid bisa dilatih untuk tugas-tugas di luar lingkungan terkontrol. Model yang hanya dilatih dari data simulasi cenderung kesulitan beradaptasi dengan variasi dunia nyata.
Konteks Pendanaan
Putaran baru Mecka menandai percepatan pendanaan di sektor data pelatihan robot. Baru tiga bulan lalu, Mecka mengumumkan Series A US$60 juta yang dipimpin Framework Ventures, dengan partisipasi Menlo Ventures, SV Angel, dan Kindred Ventures. Kini perusahaan berusia dua tahun itu disebut mendekati valuasi US$500 juta.
Belum ada keterangan resmi soal ukuran putaran, tanggal penutupan, maupun rencana penggunaan dana. Untuk pasar Indonesia, perkembangan ini relevan sebagai indikator arah investasi global di infrastruktur AI fisik, sektor yang belum banyak tersentuh pemain lokal.