Pencarian

Tari Tradisional Sumatera Selatan: Ragam, Filosofi, dan Peran dalam Kehidupan Masyarakat

Selasa, 01 September 2026 • 15:26:02 WIB
Tari Tradisional Sumatera Selatan: Ragam, Filosofi, dan Peran dalam Kehidupan Masyarakat
Penari membawakan Tari Gending Sriwijaya dengan sembilan penari utama, dua pembawa tombak, dan satu pembawa payung dalam prosesi penyambutan tamu kehormatan.

PALEMBANG — Tarian tradisional Sumatera Selatan tumbuh subur di tengah masyarakat Palembang dan daerah sekitarnya. Kesenian ini bukan sekadar gerak yang indah, melainkan cerita tentang penghormatan kepada tamu, kehidupan keluarga, perkawinan, dan sejarah panjang kawasan yang pernah menjadi pusat perdagangan dan kekuasaan.

Ragamnya tidak berhenti pada satu tarian terkenal. Ada Gending Sriwijaya yang lekat dengan penyambutan, Tari Tanggai yang kuat dengan simbol penghormatan, Pagar Pengantin yang hadir dalam pesta perkawinan, hingga berbagai tari daerah lain. Memahami tarian tradisional Sumatera Selatan berarti membaca kebudayaan melalui gerak, musik, busana, properti, dan ruang pertunjukannya.

Faktor di Balik Keragaman Tari Sumatera Selatan

Keragaman tari di Sumatera Selatan berkaitan dengan luasnya wilayah dan sejarah pertemuan berbagai kebudayaan. Palembang berkembang sebagai kawasan perdagangan yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar. Di luar Palembang, terdapat komunitas dengan sejarah, bahasa, adat, dan lingkungan sosial yang berbeda.

Dengan demikian, istilah "tari Sumatera Selatan" tidak seharusnya dipahami sebagai satu bentuk kesenian yang seragam. Ada tari yang berfungsi sebagai penyambutan, berkaitan dengan perkawinan, hingga hadir dalam acara resmi atau pertunjukan budaya.

Tari Gending Sriwijaya: Simbol Penyambutan Tamu

Tari Gending Sriwijaya merupakan salah satu karya budaya Sumatera Selatan yang paling dikenal, terutama dalam konteks penyambutan tamu kehormatan. Karya ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 270/P/2014 dan dicatat sebagai seni pertunjukan dari Kota Palembang.

Susunan pertunjukannya khas. Data Warisan Budaya Kemendikbud mencatat sembilan penari, ditambah dua pembawa tombak dan seorang pembawa payung. Penari terdepan membawa tepak berisi sirih pinang ketika bergerak menuju orang yang dihormati.

Makna Tepak dalam Prosesi Penyambutan

Tepak menjadi elemen penting karena berhubungan dengan tradisi penyambutan. Sirih dan pinang dalam kebudayaan Melayu-Nusantara memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari tata pergaulan dan penghormatan.

Ketika ditempatkan dalam prosesi tari, benda tersebut bukan sekadar properti visual, tetapi menyampaikan pesan keramahan. Gending Sriwijaya terasa kuat ketika dipahami sebagai bahasa penghormatan yang diterjemahkan melalui gerak.

Tari Tanggai dan Gerak Penghormatan

Tari Tanggai merupakan salah satu tarian yang identik dengan Palembang dan Sumatera Selatan. Tarian yang sering digunakan dalam konteks penyambutan tamu ini menonjolkan kelembutan tangan, posisi tubuh yang anggun, dan penggunaan kuku tanggai sebagai karakter visual.

Ciri yang Mudah Dikenali

Penari umumnya tampil dalam kelompok dengan gerakan tangan yang menjadi bagian penting. Kuku tanggai menjadi elemen khas, sementara busana bernuansa adat Palembang digunakan. Tari ini dapat hadir dalam acara penyambutan dan kegiatan budaya.

Tanggai memperlihatkan bagaimana gerak tubuh membawa pesan sosial. Tangan yang terbuka, gerak yang terukur, serta sikap tubuh yang anggun membangun suasana penerimaan terhadap tamu.

Tari Pagar Pengantin: Bagian dari Pesta Perkawinan

Jika Gending Sriwijaya dekat dengan penyambutan, Pagar Pengantin memiliki hubungan yang kuat dengan pesta perkawinan. Kajian akademik mengenai Tari Pagar Pengantin di Palembang menjelaskan bahwa tari ini berkembang sebagai tari pembuka pada resepsi pernikahan. Penelitian tersebut juga mencatat proses penciptaannya pada sekitar 1960-an oleh Hj. Sukainah A. Rojak.

Tari ini menarik karena tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan. Gerak dan perlengkapannya memiliki hubungan dengan gagasan mengenai kehidupan pengantin setelah memasuki perkawinan.

Hubungan dengan Tradisi Perkawinan

Tari Pagar Pengantin dapat ditemukan dalam konteks resepsi perkawinan, khususnya dalam masyarakat Palembang. Kajian mengenai perkembangannya menyebut adanya unsur gerak yang berkaitan dengan tari adat Sumatera Selatan, termasuk Gending Sriwijaya, Tepak Keraton, Tanggai, Lilin Siwa, dan Penguton.

Dengan demikian, Pagar Pengantin memperlihatkan bahwa tradisi tari tidak selalu berdiri sendiri. Satu karya dapat menyerap unsur gerak dari tradisi yang lebih tua dan berkembang sesuai kebutuhan masyarakat.

Tari Lilin Siwa dan Tepak Keraton

Tari Lilin Siwa termasuk dalam khazanah tari Palembang. Namanya berkaitan dengan lilin dan Siwa, mencerminkan lapisan sejarah budaya dalam perkembangan seni pertunjukan kawasan tersebut. Tari ini memiliki karakter gerak dan visual yang berbeda dari tari penyambutan seperti Gending Sriwijaya atau Tanggai.

Tepak Keraton juga dikenal dalam lingkungan tari tradisional Palembang. Nama "tepak" mengingatkan pada tradisi penyambutan dan pemberian sirih. Dalam konteks pertunjukan, tepak menjadi simbol penghormatan dan tata krama.

Nilai yang Terlihat dari Tepak Keraton

Nilai-nilai yang tampak dari tarian ini antara lain menghormati tamu, menjaga kesopanan, mengutamakan kelembutan, menghadirkan simbol dalam upacara, serta menghubungkan seni dengan kehidupan sosial. Memahami tari tradisional tidak cukup hanya dengan menghafal nama dan gerak, tetapi fungsi sosialnya juga perlu diketahui.

Tari Penguton: Bagian dari Tari Adat Persembahan

Penguton merupakan salah satu nama tari yang tercatat dalam kelompok tari adat persembahan Sumatera Selatan. Kajian mengenai Tari Pagar Pengantin mencantumkan Penguton bersama Gending Sriwijaya, Tepak Keraton, Tanggai, dan Lilin Siwa sebagai tari persembahan yang menjadi bagian dari tradisi daerah. Keberadaan berbagai tari persembahan ini menunjukkan kuatnya hubungan antara seni pertunjukan dan tata cara menerima atau menghormati seseorang.

Busana dalam Tari Tradisional Sumatera Selatan

Gerak tari tidak dapat dipisahkan dari busana karena pakaian membantu membentuk karakter pertunjukan. Busana tari Palembang memperlihatkan pengaruh kuat kain songket, aksesori kepala, hiasan tubuh, dan bentuk pakaian tradisional.

Unsur Busana yang Sering Dijumpai

  • Kain songket.
  • Aksesori kepala.
  • Perhiasan tradisional.
  • Kuku tanggai untuk tari tertentu.
  • Selendang atau perlengkapan pelengkap.
  • Busana yang disesuaikan dengan fungsi tari.

Songket membuat pertunjukan memiliki karakter visual yang kuat. Kilau benang dan motif kain membantu membangun suasana formal dan meriah. Namun, busana tidak seharusnya dipahami hanya sebagai kostum panggung, melainkan bagian dari identitas dan simbol sosial.

Musik Pengiring dan Properti Tari

Tari membutuhkan musik untuk membentuk tempo, suasana, dan karakter gerak. Instrumen yang digunakan dapat berbeda sesuai jenis tari dan bentuk pertunjukan. Dalam perkembangan modern, musik tradisional juga dapat dipadukan dengan pengaturan panggung yang lebih kontemporer.

Tari Pagar Pengantin, misalnya, dalam salah satu kajian disebut menggunakan gendang dan kenong, kemudian ditambah accordion, gong, serta vokal.

Fungsi Simbolik Properti

Properti dalam tari bukan sekadar benda yang membuat pertunjukan menarik. Tepak berkaitan dengan tradisi penghormatan dan penyambutan, sedangkan tanggai memperkuat karakter gerak jemari pada Tari Tanggai. Nampan dalam konteks Pagar Pengantin tertentu digunakan sebagai bagian dari ruang simbolis pengantin perempuan, sementara payung dan tombak menjadi bagian dari susunan pertunjukan Gending Sriwijaya. Setiap properti membuat tari memiliki bahasa visual yang lebih kaya.

Fungsi Tari dalam Kehidupan Masyarakat

Tari tradisional dapat hidup karena memiliki fungsi yang nyata. Sebagai tari penyambutan, Gending Sriwijaya dan Tanggai dikenal kuat dan menjadi cara menyatakan penghormatan kepada tamu. Sebagai bagian dari perkawinan, Pagar Pengantin memiliki hubungan erat dengan resepsi perkawinan di Palembang, menempatkan tari sebagai bagian dari perayaan keluarga.

Tari juga dapat hadir dalam festival, kegiatan pemerintah, acara pendidikan, pertunjukan seni, dan kegiatan pelestarian budaya. Fungsi tersebut membuat tari tetap memiliki ruang untuk berkembang tanpa kehilangan akar tradisionalnya.

Langkah Mengenalkan Tari kepada Generasi Muda

Pelestarian tidak cukup dengan menyimpan pakaian dan video pertunjukan. Tari perlu dipraktikkan, dipahami, dan diberi ruang untuk tampil.

Beberapa Langkah yang Dapat Dilakukan

  • Mengadakan sanggar tari di sekolah atau komunitas.
  • Mendokumentasikan koreografi dan musik.
  • Mengajarkan sejarah di balik setiap tari.
  • Mengundang seniman lokal sebagai pelatih.
  • Menampilkan tari dalam kegiatan budaya.
  • Membuat dokumentasi digital yang mudah dipelajari.
  • Mengajarkan penggunaan properti dengan benar.
  • Memberikan konteks mengenai etika ketika tari digunakan dalam acara adat.

Pendekatan tersebut penting karena generasi muda bukan hanya perlu mengetahui nama tarian, tetapi juga memahami mengapa sebuah gerakan dan simbol dipertahankan.

Tempat untuk Mengenal Seni Tari Sumatera Selatan

Bagi yang ingin mengenal tari secara lebih dekat, Palembang dapat menjadi titik awal yang menarik. Kegiatan kebudayaan, sanggar seni, museum, festival daerah, dan pertunjukan resmi dapat menjadi ruang untuk melihat tari secara langsung.

Data kebudayaan pemerintah juga mencatat karya budaya Sumatera Selatan dan memberikan informasi mengenai status Warisan Budaya Takbenda. Gending Sriwijaya, misalnya, tercatat sebagai seni pertunjukan dari Palembang. Kunjungan langsung ke pertunjukan memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan menonton video, karena irama musik, gerak kelompok, kilau songket, serta suasana penyambutan dapat terasa sebagai satu kesatuan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Tari Sumatera Selatan

Apa tari tradisional yang paling terkenal dari Sumatera Selatan?

Gending Sriwijaya dan Tanggai termasuk yang sangat dikenal, khususnya dalam konteks penyambutan. Pagar Pengantin juga populer karena berkaitan dengan acara perkawinan.

Apa fungsi Tari Gending Sriwijaya?

Gending Sriwijaya berfungsi sebagai tari penyambutan. Data Warisan Budaya Indonesia mencatat adanya sembilan penari, pembawa tombak, pembawa payung, serta tepak berisi sirih pinang dalam susunan pertunjukannya.

Apakah Tari Pagar Pengantin hanya untuk Palembang?

Tari Pagar Pengantin sangat kuat kaitannya dengan Palembang dan Sumatera Selatan, terutama dalam resepsi perkawinan. Perkembangannya juga tercatat di daerah lain di Sumatera Selatan.

Mengapa kuku tanggai digunakan dalam tari?

Kuku tanggai memperkuat karakter visual dan gerak jari dalam Tari Tanggai. Bentuknya membuat gerakan tangan terlihat lebih panjang, lembut, dan ekspresif.

Apakah semua tari Sumatera Selatan berasal dari masa kerajaan?

Tidak. Sejarah setiap tari berbeda. Ada karya yang memiliki akar tradisi lama, sementara ada pula tari yang diciptakan atau dikembangkan pada masa yang lebih modern.

Penutup

Di balik setiap gerakan terdapat cara masyarakat menyampaikan penghormatan, kasih sayang, kegembiraan, dan identitas. Dari tepak yang disodorkan kepada tamu hingga gemerlap songket dalam pesta perkawinan, tari menjadi bahasa budaya yang terus bergerak.

Selama dipelajari dan dipentaskan dengan pemahaman, tarian tradisional Sumatera Selatan akan tetap memiliki tempat di panggung masa kini tanpa kehilangan denyut sejarahnya.

Follow sumseloke.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks