SUMATERA SELATAN — GIIAS 2026 yang berlangsung 30 Juli–9 Agustus di ICE BSD City menjadi panggung kembalinya MAXUS ke pasar Indonesia dengan dua model listrik: MIFA 7 dan MIFA 9. Dari keduanya, MIFA 9 yang menjadi pusat perhatian—bukan hanya karena banderolnya yang menyentuh Rp958 juta, tapi karena angka dimensinya yang sulit ditandingi MPV lain di kelasnya.
Dimensi Bukan Sekadar Angka: Ini yang Bikin Baris Kedua Serasa Kelas Bisnis
MIFA 9 membawa panjang 5.270 mm, lebar 2.000 mm, tinggi 1.840 mm, dan yang paling krusial: wheelbase 3.200 mm. Untuk konteks, angka ini lebih panjang dari Hyundai Staria (3.273 mm memang lebih besar, tapi Staria bukan listrik murni) dan jauh melebihi Toyota Alphard hybrid yang wheelbase-nya 3.000 mm.
Artinya apa di dunia nyata? Ruang kaki baris kedua tidak main-main. Dengan konfigurasi captain seat, penumpang bisa meluruskan kaki penuh tanpa menyentuh kursi depan. Headroom juga lega berkat atap datar—tidak ada kesan plafon menekan seperti di beberapa MPV bergaya coupe.
Yang perlu dicatat: klaim "kabin terbesar" ini baru sebatas klaim pabrikan. Kami belum melakukan pengukuran independen. Tapi dari angka di atas kertas, sulit membantah posisinya.
Desain Elegan atau Sekadar Formal?
Secara visual, MIFA 9 tidak berteriak "saya mobil listrik". Tidak ada grille futuristik ala Hyundai Ioniq atau lampu LED menyala-nyala seperti Zeekr 009. Justru pendekatannya lebih kalem: garis bodi tegas, lampu utama ramping, dan proporsi kotak yang mengutamakan fungsionalitas kabin.
Ini keputusan desain yang menarik. Di segmen MPV premium, pembeli biasanya tidak mencari perhatian—mereka mencari ruang, kenyamanan, dan status yang halus. MIFA 9 paham itu. Tapi bagi yang berharap sensasi "wow" dari eksterior, mungkin akan sedikit kecewa.
Harga Rp958 Juta: Masuk Akal atau Kemahalan?
Di angka Rp958 juta, MIFA 9 langsung bersaing dengan nama-nama besar. Hyundai Staria Signature (mesin bensin) dibanderol sekitar Rp900 jutaan. Toyota Alphard hybrid jauh di atasnya, sekitar Rp1,4 miliar. Zeekr 009 yang juga listrik murni, harganya lebih tinggi lagi.
Dari sisi value, MIFA 9 menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki kompetitor di rentang harga sama: propulsi listrik murni dengan kabin sebesar ini. Staria memang lebih lega di beberapa titik, tapi dia masih mesin konvensional. Alphard hybrid punya nama besar, tapi bayar lebih Rp400 jutaan untuk itu.
Kelemahan yang harus diakui: jaringan dealer dan after-sales MAXUS di Indonesia masih jauh dari Toyota atau Hyundai. Ini risiko nyata yang harus dipertimbangkan pembeli, apalagi untuk mobil listrik yang butuh dukungan servis berkala dan penanganan baterai khusus.
Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Transfer DP
- Jaringan pengisian daya: untuk penggunaan harian di Jabodetabek, ini bukan masalah besar. Tapi untuk perjalanan antar kota, infrastruktur SPKLU di luar Jawa masih terbatas.
- Nilai jual kembali: merek baru di segmen premium biasanya mengalami depresiasi lebih curam di tahun-tahun awal. Belum ada data historis untuk MAXUS di Indonesia.
- Ketersediaan suku cadang: dengan volume penjualan yang masih kecil, waktu tunggu komponen bisa lebih lama dibanding merek established.
Verdict Awal: Kandidat Serius, Tapi Bukan untuk Semua Orang
MIFA 9 jelas dirancang untuk mereka yang prioritas utamanya ruang kabin dan biaya operasional rendah (listrik jauh lebih murah per kilometer dibanding bensin). Untuk keluarga besar dengan sopir pribadi, atau korporasi yang butuh kendaraan antar jemput eksekutif, ini pilihan yang sangat rasional.
Namun untuk individu yang mengutamakan gengsi merek, jaringan servis luas, dan kemudahan jual kembali, MIFA 9 masih perlu pembuktian. GIIAS 2026 akan menjadi ajang penting—bukan hanya untuk MAXUS, tapi juga untuk melihat apakah pasar Indonesia siap menerima MPV listrik premium dari merek yang relatif baru.