PALEMBANG — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi gangguan serius bagi aktivitas transportasi di Sumatera Selatan. Kali ini, kepulan asap tebal menutupi sebagian badan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Kayuagung–Palembang, tepatnya di KM 356, pada Selasa (4/8/2026) siang.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut titik api berada di lahan yang berdekatan langsung dengan sisi jalan tol, sehingga asap yang terbawa angin dengan cepat mengganggu visibilitas pengguna jalan.
“Karhutla terjadi di sekitar ruas JTTS Kayuagung–Palembang KM 356. Asapnya menutup sebagian ruas tol sehingga mengganggu jarak pandang pengguna jalan,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Polisi Siaga di Titik Rawan dan Imbau Pengendara Kurangi Kecepatan
Menurunnya jarak pandang di ruas tol tersebut langsung direspons cepat oleh aparat kepolisian. Personel gabungan diterjunkan ke titik lokasi untuk melakukan pengamanan dan mengatur laju kendaraan yang melintas.
Pengendara yang melintas di kawasan terdampak asap diminta untuk disiplin mengurangi kecepatan. Selain itu, petugas juga mengingatkan agar pengemudi menyalakan lampu utama kendaraan dan menjaga jarak aman antar kendaraan guna mengantisipasi pengereman mendadak akibat kabut asap yang pekat.
Manggala Agni Dikerahkan, Luas Lahan Terbakar Masih Didata
Sementara itu, tim Manggala Agni bergerak ke lokasi untuk melakukan pemadaman. Upaya ini difokuskan pada area yang terbakar di sekitar jalur tol agar api tidak merambat lebih luas dan asap segera berkurang.
Hingga saat ini, prioritas utama petugas adalah menjinakkan api. Ferdian menegaskan bahwa penyebab pasti kebakaran serta total luas lahan yang terdampak masih dalam proses pendataan karena petugas masih fokus bekerja di lapangan.
“Saat ini prioritas kami adalah memadamkan api. Untuk penyebab kebakaran dan luas lahan yang terbakar masih dalam pendataan karena petugas masih bekerja di lapangan,” kata Ferdian.
El Nino Memperparah, Masyarakat Diminta Tak Bakar Lahan
Fenomena karhutla ini terjadi di tengah puncak musim kemarau yang diperparah dengan menguatnya fenomena El Nino. Kondisi ini membuat api mudah menyebar dan sulit dikendalikan, sehingga dampaknya tidak hanya merusak lingkungan tetapi juga mengancam keselamatan pengguna jalan dan aktivitas ekonomi.
Balai Pengendalian Kebakaran Hutan bersama aparat kepolisian mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun. Ferdian menegaskan bahwa di tengah kondisi cuaca ekstrem saat ini, api dapat dengan cepat meluas dan menimbulkan kerugian yang lebih besar.
“Di sisi lain, masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun. Di tengah kondisi kemarau dan menguatnya fenomena El Nino, api dapat dengan cepat meluas dan tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi dan keselamatan pengguna jalan,” tutupnya.