Pencarian

CEO Haka Auto: Penetrasi EV di Luar Jawa Masih 5–6 Persen, Infrastruktur Jadi Biang Kerok

Senin, 27 Juli 2026 • 08:49:01 WIB
CEO Haka Auto: Penetrasi EV di Luar Jawa Masih 5–6 Persen, Infrastruktur Jadi Biang Kerok
CEO Haka Auto menyatakan penetrasi kendaraan listrik di luar Pulau Jawa baru mencapai 5–6 persen akibat infrastruktur pengisian daya yang belum merata.

SUMATERA SELATAN — Data terbaru dari Haka Auto menunjukkan penetrasi kendaraan listrik (EV) di luar Pulau Jawa masih sangat rendah, berkisar 5–6 persen dari total penjualan nasional. Sementara itu, kawasan Jabodetabek sendiri menyumbang 67 persen volume penjualan EV secara nasional. Angka ini menggambarkan kesenjangan infrastruktur yang masih lebar antara Jawa dan wilayah timur Indonesia.

Hariyadi Kaimuddin, CEO Haka Auto, menyampaikan hal tersebut dalam Talkshow BYD: Mobilitas Masa Depan Dimulai Hari Ini di Trans Studio Makassar, Minggu (26/7/2026). Menurutnya, kendala utama bukan pada minat masyarakat, melainkan ketersediaan SPKLU yang belum merata.

Penetrasi EV di Luar Jawa Baru 5–6 Persen

"Karena pasar Jawa sangat besar, rata-rata nasional terlihat tinggi. Padahal kalau di luar Jawa, penetrasinya masih sekitar lima persen. Otomatis penjualan BYD juga mengikuti kondisi tersebut," ujar Hariyadi. Ia menambahkan, dari total penjualan EV nasional, kontribusi kawasan di luar Jawa masih relatif kecil.

Pulau Jawa secara keseluruhan mencatat penetrasi sekitar 20 persen. Angka ini jauh di atas rata-rata luar Jawa yang baru menyentuh 5–6 persen. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan swasta, untuk mempercepat pembangunan infrastruktur pengisian daya di luar Jawa.

BYD Siapkan Flash Charging 1.500 kW

Salah satu terobosan yang disiapkan BYD adalah teknologi Flash Charging berkekuatan 1.500 kW (1,5 megawatt). Kapasitas ini melompat jauh dari teknologi pengisian cepat saat ini yang rata-rata hanya 100 kW. "Dengan kemampuan itu, pengisian baterai hanya membutuhkan hitungan menit. Ini akan menjadi lompatan besar," jelas Hariyadi.

Teknologi ini rencananya akan diperluas ke berbagai daerah di Indonesia secara bertahap. Menurut Hariyadi, pembangunan SPKLU akan berjalan seiring bertambahnya populasi kendaraan listrik. "Kalau pengguna mobil listrik semakin banyak, tanpa diminta pun para pengusaha akan membangun SPKLU karena secara bisnis ini menguntungkan," tambahnya.

Dual Mode PHEV: Solusi Hibrida untuk Daerah Minim SPKLU

Sebelum infrastruktur listrik merata, BYD juga memperkenalkan teknologi Dual Mode atau Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Sistem ini berbeda dari hybrid konvensional karena kendaraan tetap bisa diisi ulang dengan listrik, sementara mesin bensin berfungsi sebagai cadangan.

"Konsepnya sebenarnya mobil listrik yang ditambahkan mesin bensin sebagai cadangan. Jadi pengguna tetap merasakan pengalaman berkendara layaknya mobil listrik, tetapi tidak khawatir ketika belum tersedia charging station," kata Hariyadi. Dalam mode kombinasi, kendaraan mampu menempuh lebih dari 1.000 kilometer dalam satu kali pengisian penuh.

Saat melaju di kemacetan atau kecepatan rendah, motor listrik menjadi penggerak utama sehingga konsumsi energi lebih hemat. Sebaliknya, di jalan tol dengan kecepatan tinggi, mesin bensin bekerja untuk menjaga efisiensi. Teknologi ini dinilai menjadi jembatan ideal bagi konsumen di luar Jawa yang masih menghadapi keterbatasan SPKLU.

Biaya Operasional dan Insentif Dorong Adopsi

Hariyadi menambahkan, semakin banyak masyarakat mulai menerima kendaraan listrik karena berbagai keuntungan nyata. Selain biaya energi yang lebih murah, komponen kendaraan listrik lebih sedikit sehingga biaya perawatannya jauh lebih rendah. Insentif perpajakan juga menjadi daya tarik tambahan bagi konsumen.

"Mobilitas masa depan sebenarnya sudah dimulai hari ini. Masyarakat semakin terbuka menggunakan kendaraan listrik karena mereka mulai memahami manfaatnya, baik dari sisi efisiensi, biaya operasional, maupun dampaknya terhadap lingkungan," pungkas Hariyadi.

Bagikan
Sumber: sulselsatu.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks