SUMATERA SELATAN — Peringkat utang Indonesia di level investment grade kembali dipertahankan. Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings mengafirmasi peringkat jangka panjang di BBB dan jangka pendek di A-2, dengan prospek stabil. Keputusan ini diumumkan pada Senin (13/7).
Alasan S&P Mempertahankan Peringkat
Dalam laporannya, S&P mendasarkan prospek stabil pada ekspektasi penerimaan pemerintah yang terus pulih tahun ini. Hal itu didorong oleh rebound pendapatan ekspor akibat kenaikan harga komoditas. Lembaga itu juga menilai kebijakan pemerintah meningkatkan penerimaan dari sektor sumber daya alam akan mendukung perbaikan fiskal jangka panjang.
Komitmen pemerintah menjaga batas defisit anggaran maksimal 3% terhadap PDB menjadi jangkar penting. "Peringkat Indonesia mencerminkan prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat, kebijakan makroekonomi yang prudent, serta beban utang luar negeri bersih dan utang pemerintah yang relatif rendah," tulis S&P.
Respon Pemerintah: Fokus pada Disiplin Fiskal
Menkeu Purbaya menyatakan afirmasi ini jadi sinyal positif bahwa Indonesia tetap dipandang sebagai tujuan investasi kredibel. "Pemerintah akan terus menjaga disiplin fiskal, memperkuat basis penerimaan negara, meningkatkan kualitas belanja, serta memastikan pembiayaan dikelola secara prudent, efisien, dan berkelanjutan," kata Purbaya dalam keterangan resmi.
Pemerintah optimistis kombinasi fundamental ekonomi yang solid, disiplin fiskal, dan reformasi berkelanjutan akan menjaga kepercayaan investor. Hilirisasi dan peningkatan penguasaan negara atas sektor mineral dinilai berpotensi menaikkan penerimaan negara dan pendapatan ekspor.
Catatan S&P: Tantangan Struktural yang Masih Membayangi
Kendati peringkat dipertahankan, S&P mengingatkan Indonesia masih menghadapi tantangan struktural. Pendapatan per kapita yang relatif rendah, basis ekspor dan penerimaan fiskal yang sempit, serta sektor keuangan domestik yang belum sedalam negara sekelas jadi catatan. Kondisi ini turut meningkatkan beban pembayaran utang pemerintah.
S&P memperkirakan ekonomi Indonesia tetap tumbuh sekitar 5% per tahun dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Namun, lembaga itu memperingatkan perubahan kebijakan yang cepat dan ketidakpastian implementasi bisa memengaruhi kepercayaan investor serta memberi tekanan pada rupiah dan pasar keuangan.
Skenario Kenaikan dan Risiko Penurunan Peringkat
S&P membuka peluang kenaikan peringkat jika indikator fiskal dan eksternal membaik secara struktural. Syaratnya, defisit fiskal menyempit menuju 1% terhadap PDB secara berkelanjutan, didukung peningkatan signifikan penerimaan negara, biaya pembiayaan lebih rendah, dan stabilitas nilai tukar. Selain itu, utang luar negeri bersih dan kebutuhan pembiayaan eksternal harus turun di bawah 50% dari penerimaan transaksi berjalan dan cadangan devisa.
Sebaliknya, penurunan peringkat bisa terjadi jika utang bersih pemerintah meningkat konsisten di atas 3% terhadap PDB per tahun. Juga jika pembayaran bunga utang bertahan di atas 15% dari penerimaan negara, atau penerimaan ekspor melemah secara struktural sehingga meningkatkan kebutuhan pembiayaan eksternal.