JAKARTA — Selama puluhan tahun, anggaran olahraga di Indonesia selalu masuk dalam kotak belanja sosial yang pasif. Setelah gegap gempita podium usai, yang tersisa hanyalah laporan pertanggungjawaban operasional tanpa kalkulasi imbal hasil finansial bagi kas negara. Kini, Kemenpora membalikkan logika itu dengan memandang olahraga sebagai revenue opportunity yang sah.
Deregulasi 191 Aturan Jadi Empat Pilar Utama
Langkah paling konkret dari perubahan ini adalah pemangkasan birokrasi. Kemenpora memangkas 191 Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga menjadi hanya empat peraturan utama. Dari empat pilar regulasi baru itu, "Industri Olahraga dan Sport Tourism" secara spesifik dimasukkan sebagai payung hukum yang mandiri dan kokoh.
"Ini adalah dokumen legal yang menjadi fondasi bagi kepastian hukum, penurunan hambatan birokrasi bagi promotor swasta, dan pemecah kebuntuan izin penyelenggaraan ajang olahraga yang selama ini menjadi momok bagi para investor," demikian pernyataan resmi yang dikutip dari keterangan Kemenpora.
Nilai Pasar Global Rp 9.800 Triliun Jadi Justifikasi Target Ekonomi 8 Persen
Presiden Prabowo Subianto telah mematok target pertumbuhan ekonomi nasional yang agresif di angka delapan persen. Dalam kalkulasi ekonomi konvensional, target tersebut sulit dicapai jika Indonesia hanya mengandalkan komoditas alam mentah atau sektor manufaktur tradisional yang bergerak lambat.
Secara global, nilai pasar sport tourism telah menyentuh angka fantastis sebesar 625 miliar dolar AS atau sekitar Rp9.800 triliun dengan laju pertumbuhan konstan delapan persen per tahun. Sementara itu, industri olahraga dunia diperkirakan bernilai 521 miliar dollar AS dan diproyeksikan melonjak 25 persen hingga tahun 2032.
Ekosistem Liga Domestik: Potensi Rp 700 Miliar yang Bisa Jauh Lebih Besar
Bagaimana potensi makro tersebut diterjemahkan ke dalam realitas lokal? Jawabannya ada pada ekosistem liga domestik Indonesia yang selama ini dibiarkan berjalan tertatih-tatih tanpa integrasi bisnis yang matang. Liga sepak bola utama Indonesia mencatatkan nilai perputaran ekonomi di kisaran Rp700 miliar. Di sisi lain, liga bola basket nasional (IBL) bergerak di angka sekitar Rp60 miliar.
Secara nilai, angka ratusan miliar ini mungkin terlihat besar. Namun, bagi para pelaku analisis ekonomi makro, angka ini masih bisa diupayakan jauh lebih tinggi lagi. Bayangkan sebuah peluang dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, yang memiliki kegilaan fanatik terhadap olahraga. Angka tersebut bahkan belum mencakup kontribusi signifikan dari pengeluaran langsung masing-masing klub secara mandiri.
Mengapa Baru Tiga Olahraga yang Punya Liga Profesional?
Kesenjangan ekonomi ini terjadi karena liga-liga domestik kita selama ini dikelola dengan cara pandang turnamen yang dihadirkan terus menerus sebagai salah satu bentuk sarana pertumbuhan atlet, bukan sebagai sebuah produk hiburan bernilai tinggi. Saat ini, hanya sepak bola, bola basket, dan bola voli yang memiliki struktur kompetisi profesional yang sudah bergulir secara rutin.
Ambisi Kemenpora untuk menginisiasi dan menghidupkan sembilan liga olahraga jadi sangat relevan. Enam sektor olahraga potensial lainnya seperti bulu tangkis, balap motor, hingga cabang atletik, masih terjebak dalam siklus kejuaraan daerah yang sporadis dan sepi sponsor.
Belajar dari Dominasi AS: Fanatisme Suporter Indonesia Bisa Jadi Bahan Bakar Industri
Jika menengok ke Amerika Serikat, negara ini berhasil mendominasi pendapatan industri olahraga global dengan memperlakukan kompetisi sebagai bisnis sirkular yang disiplin. Liga-liga besar seperti NBA dan Major League Baseball (MLB) tidak bergantung pada hibah pemerintah. Sebagai korporasi raksasa, mereka menyumbang triliunan rupiah bagi perekonomian negara melalui hak siar media global, penjualan merchandise, hak penamaan stadion, serta penyerapan ratusan ribu tenaga kerja di sektor logistik, perhotelan, dan ekonomi kreatif.
Sebenarnya, Indonesia memiliki modal sosial yang jauh lebih militan dalam hal basis massa ketimbang Amerika Serikat. Fanatisme suporter sepak bola atau bola basket di tanah air adalah bahan bakar mentah yang sangat berharga. Masalahnya, bahan bakar ini belum dialirkan ke dalam mesin industri yang tepat. Ketika birokrasi dipangkas dan hukum industri olahraga ditegakkan, negara sedang membuka keran investasi swasta yang masif. Tidak lagi membelanjakan APBN.