SUMATERA SELATAN — Subholding Upstream Pertamina itu saat ini mengoperasikan 27 persen blok migas di Indonesia. Hermansyah Y Nasroen, Corporate Secretary PHE, mengatakan pihaknya terus bertransformasi menjadi perusahaan hulu migas yang tangguh dan berdaya saing global.
“Selama 19 tahun, PHE terus memperkuat perannya sebagai tulang punggung produksi migas nasional. Di tengah tantangan natural decline yang semakin tinggi, kami mampu menjaga pertumbuhan produksi melalui pengembangan lapangan secara agresif, penerapan teknologi, eksplorasi yang berkelanjutan, serta pengelolaan operasi yang unggul,” ujar Hermansyah dalam keterangan resmi, Selasa (30/6).
Ekspansi Wilayah Kerja dan Temuan Cadangan Baru
Sejak 2022 hingga 2025, PHE memperoleh sembilan wilayah kerja eksplorasi baru. Pada 2025 saja, perusahaan mengantongi tiga blok anyar: Binaiya di Maluku, Lavender di Sulawesi Tenggara, dan Bobara di Papua.
Dari aktivitas eksplorasi tersebut, PHE berhasil menemukan potensi sumber daya kontingen (2C) sebesar 1.097,43 juta barel setara minyak (MMBOE). Kontribusi terbesar berasal dari temuan Migas Non Konvensional (MNK) di Wilayah Kerja Rokan yang mencapai 724,22 juta barel minyak (MMBO).
Teknologi Baru untuk Dongkrak Produktivitas Lapangan Tua
Untuk menggenjot produksi dari lapangan yang sudah berumur, PHE menerapkan sejumlah teknologi mutakhir. Di antaranya adalah implementasi multistage fracturing pertama di sumur horizontal Kotabatak, pengembangan North Duri Development Area 14 melalui injeksi steamflood, serta Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di Minas Area A.
Teknologi ini menjadi kunci untuk memperlambat laju penurunan produksi alamiah yang menjadi tantangan klasik industri hulu migas.
Proyek Strategis 2026: Dari Masela hingga CCS
Memasuki tahun depan, PHE menyiapkan sederet proyek besar untuk memperkuat kinerja. Fokus utama meliputi revitalisasi aset eksisting, pengembangan lapangan baru (greenfield), serta implementasi Enhanced Oil Recovery (EOR).
Beberapa proyek andalan yang masuk daftar antara lain pengembangan Lapangan Akasia Prima, Padang Pancuran, Sisi Nubi AOI, South Senoro, hingga Masela. PHE juga akan melanjutkan program rejuvenasi aset di area Benuang, Lima ONWJ, ABAB, dan Salawati.
Di sisi eksplorasi, perusahaan akan menjajaki potensi laut dalam (deepwater) di Natuna Timur dan mengembangkan proyek Carbon Capture and Storage (CCS). Optimalisasi kebijakan fiskal dan regulasi di sektor hulu migas juga menjadi perhatian untuk menjaga iklim investasi tetap kompetitif.
Dengan portofolio yang terus bertambah dan adopsi teknologi baru, PHE optimistis dapat mempertahankan posisinya sebagai tulang punggung ketahanan energi nasional di tengah tantangan transisi energi global.