SUMATERA SELATAN — Data yang dirilis Danantara menunjukkan tren positif di berbagai sektor. Di sektor perbankan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatat laba Rp 21,34 triliun, naik dari Rp 18,84 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk juga melaporkan kenaikan laba dari Rp 18,49 triliun menjadi Rp 21,27 triliun.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk turut membukukan pertumbuhan, dari Rp 6,91 triliun menjadi Rp 7,3 triliun. Secara agregat, keempat bank pelat merah ini menyumbang tambahan laba lebih dari Rp 6 triliun dalam setahun terakhir.
Pupuk Indonesia dan Krakatau Steel Berhasil Balikkan Keadaan
Di luar sektor keuangan, PT Pupuk Indonesia (Persero) mencatat lonjakan laba paling spektakuler. Perusahaan pupuk negara itu membukukan laba Rp 4,83 triliun, melonjak dari Rp 1,6 triliun pada April 2025. Danantara menjelaskan, perubahan skema subsidi dari cost plus menjadi mark-to-market memberikan ruang lebih besar bagi perusahaan untuk memaksimalkan profit dan mengelola risiko fluktuasi harga komoditas.
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk juga berhasil berbalik dari kerugian. Perusahaan baja pelat merah ini mencatat laba Rp 635 miliar pada April 2026, setelah pada periode yang sama tahun sebelumnya masih merugi Rp 981 miliar. Langkah transformasi fundamental bisnis dan penyehatan keuangan disebut sebagai kunci. Utang perusahaan berhasil ditekan dari USD 1,7 miliar menjadi USD 1,1 miliar, sehingga beban bunga ikut menurun drastis.
Pegadaian dan MIND ID Ikut Moncer, Kimia Farma Bangkit
Kinerja positif juga dibukukan PT Pegadaian dengan laba Rp 4,38 triliun, naik dari Rp 2,34 triliun. PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID) mencatat laba Rp 14,11 triliun, meningkat dari Rp 10,79 triliun. Sementara PT Pelabuhan Indonesia (Persero) mencatat kenaikan laba dari Rp 550 miliar menjadi Rp 1,48 triliun.
PT Kimia Farma Tbk menjadi contoh lain keberhasilan pemulihan. Perusahaan farmasi ini mencatat laba Rp 108 miliar setelah sebelumnya merugi Rp 160 miliar. PT LEN Industri, PT Danareksa, PT Semen Indonesia, dan PT Agrinas Pangan Nusantara juga turut membukukan perbaikan kinerja hingga kembali mencetak laba.
Menurut Danantara, rangkaian transformasi di tingkat holding dan anak usaha menjadi faktor utama di balik lonjakan laba ini. Di Pertamina, misalnya, konsolidasi bisnis hilir dengan menggabungkan tiga subholding—Pertamina Patra Niaga, Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan Pertamina International Shipping (PIS)—menjadi satu Sub Holding Downstream berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan laba.