SUMATERA SELATAN — PT Astra Otoparts Tbk menargetkan pertumbuhan bisnis 2027 melampaui laju industri otomotif nasional, dengan membuka sekitar 30 gerai ritel baru dan memperluas portofolio produk. Perseroan juga memperkuat kanal digital AstraOtoshop.com untuk integrasi layanan daring dan luring. Target ambisius itu datang setelah laba bersih perseroan tumbuh cepat dalam lima tahun terakhir.
Presiden Direktur Astra Otoparts Yusak Kristian Solaeman memaparkan tiga strategi utama yang menjadi fokus perseroan untuk menjaga pertumbuhan tahun depan. Ketiganya adalah diversifikasi produk, perluasan basis pelanggan, dan penguatan jaringan regional.
"Tiga hal tersebut akan membawa dampak pertumbuhan yang positif, sehingga secara keseluruhan Astra Otoparts akan tumbuh lebih baik. Dan, tingkat pertumbuhannya lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan industri," ujar Yusak dalam paparan publik, Kamis (5/11/2026).
30 Gerai Baru Tersebar di Empat Jaringan Ritel
Perluasan bisnis aftermarket menjadi salah satu tumpuan. Direktur Astra Otoparts Tujuh Martogi Siahaan menjelaskan, sekitar 30 gerai baru pada 2027 akan tersebar melalui Shop & Drive, Shop & Bike, Motoquick, dan Astra Otoservice.
Penentuan lokasi mempertimbangkan potensi pasar tiap wilayah, terutama kepadatan populasi kendaraan. Perseroan ingin memastikan investasi gerai baru punya prospek permintaan yang memadai, bukan sekadar menambah jumlah titik penjualan.
Kanal digital AstraOtoshop.com ikut diperkuat. Konsumen bisa memesan suku cadang maupun layanan perawatan lewat internet, lalu melanjutkan pemasangan atau servis di gerai terdekat melalui skema online to offline (O2O).
Laba Bersih Tumbuh 37,8% per Tahun, Tertinggi dalam Lima Tahun
Direktur Astra Otoparts Sophie Handili memaparkan, pendapatan bersih perseroan tumbuh dengan CAGR 7,1% pada 2021–2025. Nilainya naik dari Rp15,15 triliun menjadi Rp19,91 triliun.
Laba bersih tumbuh jauh lebih cepat, dengan CAGR 37,8% dari Rp610 miliar menjadi Rp2,21 triliun. Capaian itu menjadi rekor laba bersih tertinggi perseroan dalam periode tersebut.
Yang menarik, pertumbuhan AUTO tidak sepenuhnya mengikuti produksi kendaraan baru. Pendapatan perdagangan komponen roda dua tumbuh dengan CAGR 7,4% sepanjang 2021–2025, justru saat jumlah unit beroperasi (UIO) roda dua turun 2%.
Pola serupa terjadi di roda empat. Pendapatan perdagangan komponennya tumbuh CAGR 8%, meski UIO roda empat terkoreksi sekitar 0,6%.
Manufaktur Komponen Tumbuh Lebih Cepat dari Produksi Industri
Di segmen manufaktur, pendapatan komponen roda dua mencatat CAGR 10,8%, melampaui kenaikan produksi industri roda dua sebesar 4,4%. Pendapatan manufaktur komponen roda empat tumbuh CAGR 8,2%, jauh di atas pertumbuhan produksi industri yang hanya 0,6%.
Sophie menyebut kinerja itu ditopang pengembangan produk melalui dua divisi riset dan pengembangan, kolaborasi dengan mitra serta pelanggan original equipment manufacturer (OEM), dan perluasan basis pelanggan. Di sisi perdagangan, peluncuran produk baru dan penguatan jaringan ritel modern menjadi pendorong.
AUTO kini memiliki 11 pusat distribusi di Indonesia yang memasok komponen kepada lebih dari 15.000 peritel.
Kuartal III-2026: Pendapatan Rp17,02 Triliun, Naik 15%
Hingga kuartal III-2026, pendapatan bersih AUTO mencapai Rp17,02 triliun atau naik 15% secara tahunan. Laba bersihnya Rp1,8 triliun, tumbuh 14,7% (yoy).
Segmen manufaktur menyumbang 54% dari total pendapatan dengan nilai Rp9,18 triliun, naik 17,6% (yoy). Segmen perdagangan berkontribusi 46% atau Rp7,84 triliun, tumbuh 12%.
Permintaan komponen dari pelanggan OEM untuk roda dua, roda empat, dan kendaraan komersial menopang segmen manufaktur. Pasokan mencakup kendaraan bermesin konvensional (ICE) serta kendaraan elektrifikasi (xEV), baik model yang sudah beredar maupun model baru.
Di luar komponen otomotif, AUTO memperluas portofolio ke sektor nonotomotif, termasuk alat kesehatan dan industri lain. Diversifikasi ini diharapkan membuka sumber pendapatan baru sekaligus mengurangi ketergantungan pada dinamika industri otomotif.