PALEMBANG — Wakil Ketua Komisi V DPRD Sumsel, H. David Hadrianto Aljufri, menyatakan bahwa edukasi kepada masyarakat harus menjadi bagian utama dalam strategi pencegahan Karhutla. Penilaian itu ia sampaikan usai meninjau posko induk penanganan Karhutla di Kabupaten Ogan Ilir beberapa hari lalu.
Menurut David, laporan dan pantauan lapangan menunjukkan jumlah titik panas di Sumsel mulai menurun dibandingkan sebelumnya. Meski begitu, kabut asap masih terasa di sejumlah daerah, termasuk Kota Palembang dan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).
Pergerakan Angin Bawa Asap ke Wilayah Lain
David menjelaskan, kondisi di PALI dan beberapa wilayah lain turut dipengaruhi pergerakan angin yang membawa asap dari sumber Karhutla ke arah barat. Petugas di lapangan, katanya, sudah menjalankan pemadaman dan pendinginan atau cooling down.
"Untuk kondisinya sekarang ini sudah melakukan upaya pemadaman atau pendinginan (cooling down). Kita berharap satu sampai tiga hari ke depan atau satu minggu ke depan akan segera turun hujan," ujar David, Kamis (10/9/2026).
Ia memberi apresiasi kepada petugas yang terus bekerja di lapangan, mulai dari Manggala Agni, BPBD Provinsi Sumsel, BPBD kabupaten/kota, hingga para relawan.
"Penanganan di lapangan oleh Manggala Agni dan tim relawan BPBD Provinsi dan kabupaten kota sudah sangat layak dan luar biasa," katanya.
Pencegahan Dinilai Lebih Penting daripada Pemadaman
David menegaskan, keberhasilan penanganan Karhutla tidak hanya ditentukan kemampuan petugas memadamkan api. Langkah pencegahan dinilai jauh lebih penting agar kebakaran tidak berulang dan menguras sumber daya.
Karena itu, ia mendorong pemerintah dari tingkat pusat hingga daerah memperkuat edukasi kepada masyarakat soal bahaya Karhutla. Materi edukasi terutama menyangkut aktivitas pembukaan atau pengelolaan lahan yang berpotensi memicu kebakaran.
"Ke depan, salah satu pencegahan kita adalah edukasi. Selama ini kita lupa dengan edukasi, karena kejadian yang terjadi selalu berulang-ulang," ujarnya.
Ia berharap kementerian terkait, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD provinsi, hingga BPBD kabupaten/kota menyusun pola edukasi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan di tengah masyarakat.
Relawan Desa Jadi Ujung Tombak Pencegahan
David juga menyoroti keberadaan relawan Karhutla desa yang dinilai dapat menjadi ujung tombak pencegahan di tingkat masyarakat. Keterlibatan warga sejak tahap pencegahan dinilai penting untuk menekan risiko kebakaran sebelum meluas.
"Biaya yang dikeluarkan saat terjadi bencana Karhutla ini sangat luar biasa. Bagaimana kita menekan jangan sampai ini terjadi berulang-ulang," katanya.
Ia menilai kondisi Karhutla Sumsel tahun ini relatif lebih terkendali dibandingkan situasi 2019. Penurunan itu, menurutnya, menunjukkan adanya perkembangan dalam upaya penanganan dan pengendalian kebakaran.
Di sisi lain, David menyebut pihaknya menerima laporan adanya sejumlah masyarakat yang telah ditetapkan sebagai tersangka karena diduga melakukan pembakaran secara sengaja. Kondisi tersebut, katanya, semakin memperlihatkan pentingnya edukasi agar warga memahami konsekuensi dari aktivitas pembakaran lahan.
"Nah, edukasi ini yang diperlukan untuk masyarakat," tutupnya.