Pencarian

Utang BUMN Karya Capai Rp 180 Triliun, Danantara Akui Aset Tak Mampu Tutupi

Rabu, 02 September 2026 • 12:29:31 WIB
Utang BUMN Karya Capai Rp 180 Triliun, Danantara Akui Aset Tak Mampu Tutupi
Danantara menyatakan aset empat BUMN Karya tidak mampu menutupi total utang yang mencapai Rp 180 triliun.

SUMATERA SELATAN — Beban utang Rp 180 triliun yang membelit perusahaan konstruksi pelat merah menjadi pekerjaan rumah terbesar Danantara dalam proses transformasi BUMN. Dari tujuh perusahaan Karya yang berada di bawah naungannya, hanya tiga yang masih memiliki kondisi keuangan sehat, yakni PT Nindya Karya, PT Brantas Abipraya, dan PT Hutama Karya.

Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, mengatakan ketiga perusahaan itu dijaga ketat agar tidak ikut terseret ke dalam pusaran masalah keuangan yang dialami BUMN Karya lainnya.

"Karya ini tidak hanya punya masalah di induknya, tetapi juga punya masalah di anak-anaknya. Inilah makanya proses perbaikan karya ini harus satu persatu. Dan dampaknya ini juga kami pikirkan," ucap Dony dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Rabu (2/9). Empat BUMN Karya Masih Terlilit Masalah Keuangan

Empat perusahaan Karya lainnya masih bergulat dengan persoalan keuangan yang cukup dalam. Namun, Danantara tidak ingin melakukan restrukturisasi yang hanya bersifat sementara, apalagi sekadar mempercantik citra laporan keuangan.

Pembenahan disebut harus dilakukan secara fundamental sampai ke akar-akarnya, termasuk menyusun ulang peta jalan bisnis masing-masing perusahaan. Persoalan utang ini menjadi kian pelik karena nilai aset yang dimiliki tidak sebanding dengan total kewajiban yang harus dibayar.

"Ada utangnya, asetnya tidak cukup untuk meng-cover utangnya. Ini kan persoalan yang harus diselesaikan satu persatu untuk karya ini," kata Dony. Koreksi Pembukuan Capai Rp 135 Triliun

Setelah mengkaji berbagai skenario restrukturisasi selama lebih dari enam bulan, Danantara membidik penyelesaian masalah BUMN Karya rampung pada akhir 2026. Proses tersebut tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, termasuk potensi penghapusbukuan atau write-off terhadap sejumlah aset maupun pinjaman yang memang sudah tidak mungkin tertagih.

Dalam proses transformasi BUMN yang berjalan selama ini, Danantara telah melakukan koreksi pembukuan mencapai Rp 135 triliun. Di luar koreksi tersebut, masih ada persoalan keuangan BUMN Karya yang berpotensi membutuhkan write-off tambahan karena terdapat aset dan pinjaman yang nilainya tidak mampu menutup utang.

"Nah ini juga kita harus menghitung berapa besar potensi write-off yang harus kita lakukan dalam perusahaan-perusahaan karya kita," ucap Dony. Mendorong Perbaikan Fundamental

Para pengamat menilai langkah Danantara yang menekankan perbaikan fundamental patut diapresiasi, mengingat selama ini restrukturisasi BUMN Karya kerap hanya berujung pada penambahan modal negara tanpa perubahan struktur bisnis yang signifikan. Dengan target penyelesaian pada 2026, publik dapat berharap sektor konstruksi pelat merah akan memiliki fondasi keuangan yang lebih kokoh dan tata kelola yang lebih sehat ke depannya.

Follow sumseloke.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks