SUMATERA SELATAN — Musim 2025-26 menjadi mimpi buruk bagi Tottenham. Klub London Utara itu hanya selamat dari degradasi berkat kemenangan di hari terakhir Premier League, finis di peringkat 17 untuk kedua kalinya secara beruntun. Namun, manajemen bergerak cepat di bursa transfer dengan belanja besar-besaran yang menunjukkan ambisi untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.
Belanja Rp 3,7 Triliun: Rekor Klub Diraih Dua Kali
Tottenham memecahkan rekor transfer klub dua kali dalam satu bursa. Mateus Fernandes didatangkan dari West Ham dengan nilai £85 juta atau sekitar Rp 1,7 triliun, sebelum rekor itu langsung dipecahkan oleh pembelian Sandro Tonali senilai £100 juta (sekitar Rp 2 triliun) dari AC Milan.
Selain dua gelandang tersebut, Spurs juga memperkuat lini belakang dengan mendatangkan Marcos Senesi dari Bournemouth dan Jan Paul van Hecke dari Brighton. Andy Robertson juga direkrut untuk menjaga standar di sisi kiri pertahanan.
De Zerbi: Dari Penyelamat Jadi Arsitek
Kedatangan De Zerbi pada pertengahan musim lalu menjadi titik balik. Pelatih asal Italia itu berhasil membangkitkan tim yang tengah terpuruk dan menyelamatkan Spurs dari bencana finansial dan reputasi. Kini dengan persiapan penuh dan materi pemain yang lebih baik, ekspektasi publik naik.
"Keajaiban yang dilakukan De Zerbi untuk membalikkan musim Spurs tidak bisa diremehkan," demikian analisis FourFourTwo. Dengan waktu latihan yang lebih panjang, Spurs diprediksi bisa menembus posisi delapan besar.
Mohammed Kudus dan James Maddison Jadi Kunci
Mohammed Kudus menjadi pemain kunci Spurs musim ini. Sebelum cedera mengakhiri musimnya pada Januari, pemain asal Ghana itu menjadi pembeda di lini serang. Gaya bermain De Zerbi yang mengandalkan duel satu lawan satu diyakini cocok dengan karakter Kudus.
James Maddison juga diharapkan kembali ke performa terbaiknya setelah absen lama. "Kami sangat kehilangan kualitas dan karakternya," ujar Tom Hayward, fans Spurs yang diwawancarai FourFourTwo. Sementara itu, striker muda Will Lankshear diprediksi menjadi temuan baru setelah musim peminjaman yang impresif di Championship.
Pekerjaan Rumah: Perbaiki Rekor Buruk di Kandang
Masalah terbesar Spurs musim lalu adalah performa kandang. Hanya tiga kemenangan di hadapan pendukung sendiri sepanjang musim Premier League. Hubungan klub dengan fans juga renggang, terbukti dari harga tiket musiman termahal kedua di liga yang sulit dibenarkan dengan hasil buruk.
Rekor buruk melawan Arsenal juga menjadi pekerjaan rumah. Spurs hanya meraih satu poin dari delapan pertemuan terakhir melawan rival sekota itu. Kemenangan di Emirates pada 1 Mei 2027 menjadi target yang tidak bisa ditawar lagi.
Jadwal Berat di Akhir Musim
Jadwal Spurs di bulan Mei terbilang menantang dengan laga tandang ke Arsenal dan Aston Villa, plus menjamu Chelsea dan Manchester United. Namun jika De Zerbi mampu membangun fondasi yang solid sejak awal, Spurs punya modal untuk menghadapi rangkaian laga krusial tersebut.
Bandar taruhan memasang Spurs di odds 50/1 untuk gelar juara, sementara FourFourTwo memprediksi finis di peringkat 8. Target realistis yang tetap menuntut konsistensi sepanjang musim.