PALEMBANG — Berdasarkan pemantauan melalui aplikasi Sipongi Kementerian Kehutanan pada Kamis (23/7) pukul 05.00 WIB, tidak ditemukan satu pun titik panas di seluruh wilayah Sumsel. Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman menjelaskan bahwa hujan yang turun belakangan ini secara signifikan meningkatkan kelembapan tanah dan membasahi lahan yang mulai mengering akibat kemarau.
Hujan Basahi Lahan, Risiko Karhutla Menurun
Menurut Sudirman, kondisi lahan yang basah membuat bahan bakar alami seperti semak, ilalang, dedaunan kering, dan ranting menjadi lebih sulit terbakar. Hujan juga membantu mengisi kembali cadangan air pada kanal, embung, dan lahan gambut, sehingga memperlambat proses pengeringan jika beberapa hari ke depan tidak turun hujan.
BPBD: Jangan Lengah Meski Hujan Turun
Meski situasi saat ini aman, Sudirman tetap mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar. "Potensi karhutla masih dapat muncul apabila cuaca kembali panas dan lahan mulai mengering," ujarnya. Ia menegaskan bahwa musim kemarau belum berakhir, sehingga kewaspadaan harus dijaga.
BMKG: Kondisi Atmosfer Masih Mendukung Hujan
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Siswanto mengatakan bahwa kondisi atmosfer saat ini masih mendukung terbentuknya hujan di Sumsel. Suhu muka laut di perairan sekitar yang relatif hangat, kelembapan udara tinggi pada lapisan bawah hingga menengah, serta atmosfer yang labil memperbesar peluang hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.
Operasi Modifikasi Cuaca Bantu Optimalkan Hujan
Selain faktor alami, operasi modifikasi cuaca (OMC) turut berperan dengan menyemai awan potensial yang memenuhi kriteria operasional. "Massa udara dan awan dari wilayah sasaran terpantau bergerak secara umum ke arah barat laut. Sebagian awan yang berkembang di Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir berpotensi bergerak menuju Kota Palembang dan sekitarnya," kata Siswanto.
BPBD Sumsel terus memantau perkembangan cuaca dan mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Meski hujan sempat memadamkan ancaman, satu percikan di lahan kering bisa memicu kebakaran besar jika musim kemarau kembali dominan.