Pencarian

7 Festival Budaya Sumatera Selatan yang Wajib Masuk Daftar Perjalanan Anda

Kamis, 16 Juli 2026 • 18:51:01 WIB
7 Festival Budaya Sumatera Selatan yang Wajib Masuk Daftar Perjalanan Anda
Puluhan perahu hias meluncur di Sungai Musi dalam Festival Sriwijaya, perayaan budaya tahunan di Palembang.

Palembang, pertengahan 2024. Saya duduk di tepian Sungai Musi, menyaksikan puluhan perahu hias meluncur pelan. Bukan sekadar lomba, ini bagian dari Festival Sriwijaya — perayaan yang setiap tahun mengingatkan bahwa Sumatera Selatan adalah pewaris kerajaan maritim terbesar di Nusantara. Bagi perantau atau wisatawan yang ingin merasakan denyut budaya asli, festival-festival ini bukan tontonan tourist trap. Ini adalah jendela ke identitas masyarakat Sumsel yang jarang tersentuh sorot media nasional.

1. Festival Sriwijaya: Napas Kerajaan Maritim di Tengah Kota

Diselenggarakan setiap Juni di kawasan Benteng Kuto Besak (BKB) dan tepian Sungai Musi, festival ini adalah yang terbesar di Palembang. Puncak acaranya adalah Pawai Perahu Hias dan Ritual Tepung Tawar — tradisi tolak bala yang dipimpin tokoh adat setempat. Pengunjung bisa melihat langsung replika perahu dagang Sriwijaya, lengkap dengan penari dan musik tradisional di atas geladak.

Tips: Datang pagi hari sebelum pukul 08.00 untuk dapat tempat duduk di bibir sungai. Cuaca Palembang Juni terik, bawa topi dan air minum. Tiket masuk area festival biasanya gratis untuk umum, kecuali beberapa acara khusus di dalam BKB.

2. Festival Danau Ranau: Perayaan di Kaki Gunung Seminung

Berlangsung setiap Agustus di kawasan Danau Ranau, perbatasan Sumsel dan Lampung. Festival ini menggabungkan atraksi budaya masyarakat Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS) dengan lomba perahu tradisional dan pentas seni. Yang paling menarik adalah tradisi Sedekah Danau — ritual membuang sesaji ke tengah danau sebagai ungkapan syukur atas hasil tangkapan ikan.

Akses ke lokasi bisa melalui Banding Agung atau jalan darat dari Liwa. Jalan berkelok dan terjal, pastikan kendaraan dalam kondisi prima. Akomodasi homestay warga lokal tersedia dengan harga bervariasi — negosiasi langsung dengan pemilik rumah.

3. Festival Ogoh-Ogoh Kayuagung: Tradisi Hindu di Tengah Muslim

Unik dan jarang terekspos. Di Kayuagung, Kabupaten OKI, komunitas Hindu setempat menggelar pawai Ogoh-Ogoh setiap menjelang Nyepi. Patung raksasa dari anyaman bambu diarak keliling kota, lalu dibakar di tepi Sungai Komering. Yang membedakan dengan Bali: iringan musik tradisional Komering dan sesajen khas Melayu.

Festival ini biasanya berlangsung di Pasar Kayuagung dan pelataran Pura Agung. Jadwalnya mengikuti kalender Hindu, cek informasi dari Dinas Pariwisata OKI sebelum bepergian.

4. Festival Perang Api (Pagaralam): Tradisi Leluhur di Lereng Dempo

Masyarakat Besemah di Pagaralam punya ritual tahunan yang menguji nyali: perang api menggunakan pelepah aren kering yang dibakar. Dilaksanakan setiap bulan Syawal (setelah Idul Fitri), ritual ini bukan sekadar atraksi — melambangkan keberanian dan solidaritas warga. Peserta saling memukul dengan api di lapangan terbuka, diiringi tabuhan gendang.

Lokasi utama di Alun-Alun Pagaralam. Jangan memakai bahan sintetis — percikan api bisa membakar pakaian. Siapkan kamera dengan lensa telefoto untuk mengamankan jarak aman.

5. Festival Bidar dan Naga: Perlombaan Dayung Tradisional

Bidar adalah perahu dayung panjang khas Sumsel, bisa memuat hingga 50 pendayung. Festival ini rutin digelar di Sungai Musi, segmen Jembatan Ampera hingga Pulau Kemaro. Lomba naga (perahu naga) juga digelar sebagai bagian dari perayaan Imlek oleh komunitas Tionghoa Palembang.

Waktu terbaik menonton adalah pukul 07.00-10.00 pagi saat air sungai tenang. Posisi strategis di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya atau kawasan 16 Ilir. Festival biasanya bertepatan dengan HUT Kota Palembang (Juni) atau Tahun Baru Imlek.

6. Festival Tabot: Ritual Berkabung Masyarakat Bengkulu-Sumsel

Meski identik dengan Bengkulu, Tabot juga dirayakan di beberapa titik Sumsel seperti Muara Enim dan Lubuklinggau oleh komunitas keturunan India Muslim. Ritual ini memperingati syahidnya cucu Nabi Muhammad, Husein bin Ali, dengan mengarak replika peti (tabot) keliling kota. Suasana khidmat, diiringi nyanyian ratapan dan tabuhan rebana.

Berlangsung setiap 1-10 Muharram. Lokasi utama di Masjid Agung atau lapangan kota. Pengunjung diimbau berpakaian sopan dan tidak mengganggu prosesi ibadah.

7. Festival Kuliner dan Batik Sumsel: Cita Rasa dan Corak di Satu Tempat

Setiap tahun, Dinas Pariwisata Sumsel menggelar pameran kuliner dan batik di Palembang Indah Mall atau kawasan Jakabaring. Pengunjung bisa mencicipi pempek kapal selam asli, tekwan, model, dan pindang patin langsung dari perajin. Batik Sumsel bermotif songket dan lepus juga dipamerkan.

Jadwal biasanya September-Oktober. Cek akun Instagram Dinas Pariwisata Sumsel untuk tanggal pasti. Bawa uang tunai — banyak stan kecil tidak menerima QRIS.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan waktu terbaik mengunjungi Sumatera Selatan untuk festival?
Juni hingga Oktober. Festival Sriwijaya (Juni), Danau Ranau (Agustus), dan Tabot (Muharram) berlangsung di rentang ini. Cuaca relatif kering, cocok untuk perjalanan darat.

Apakah festival-festival ini ramah untuk anak-anak?
Ya, kecuali Festival Perang Api di Pagaralam yang cukup ekstrem. Untuk anak kecil, Festival Sriwijaya dan Festival Bidar lebih aman dengan area bermain dan panggung hiburan.

Bagaimana akses transportasi ke lokasi festival di luar Palembang?
Palembang punya bandara internasional (SMB II) dan stasiun kereta (LRT dan Kertapati). Ke Pagaralam naik bus dari Terminal Karya Jaya (3-4 jam). Ke Danau Ranau bisa naik travel dari Liwa atau Banding Agung. Sewa mobil dengan sopir lokal lebih praktis untuk lokasi terpencil.

Apakah ada biaya masuk untuk menonton festival?
Sebagian besar gratis untuk area umum. Beberapa acara khusus (konser, pameran di dalam gedung) mungkin memungut tiket. Cek informasi resmi dari Dinas Pariwisata setempat.

Bahasa apa yang digunakan selama festival?
Bahasa Indonesia dan bahasa daerah (Palembang, Komering, Besemah). Sebagian pemandu wisata di acara besar bisa berbahasa Inggris dasar.

Festival-festival ini bukan sekadar tontonan. Bagi warga lokal, ini adalah napas tradisi yang diwariskan turun-temurun. Bagi perantau dan wisatawan, ini kesempatan langka untuk menyelami Sumatera Selatan dari sisi yang tidak bisa ditemukan di buku panduan. Catat jadwalnya, siapkan kamera, dan jangan lupa cicipi pempek di sela-sela acara. Selamat menjelajah.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks