BATURAJA — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan mencatat lonjakan signifikan jumlah hotspot di empat wilayah selama sepuluh hari pertama Juli 2026. Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) menjadi daerah dengan titik panas terbanyak, yakni 89 titik, disusul Muaraenim 71 titik, Ogan Komering Ilir (OKI) 67 titik, dan Ogan Komering Ulu (OKU) 65 titik.
Mengapa Hotspot Melonjak di Awal Juli?
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengungkapkan peningkatan ini dipicu oleh cuaca kemarau yang semakin kering. Curah hujan yang berkurang drastis membuat lahan mudah terbakar, sehingga potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) meningkat.
“Hotspot yang muncul bukan berarti titik api sehingga perlu dilakukan verifikasi di lapangan,” ujar Sudirman saat dikonfirmasi, Minggu (12/7). Ia menegaskan titik panas baru menjadi indikator awal dugaan Karhutla yang harus ditindaklanjuti dengan pengecekan langsung.
Daftar Lengkap Sebaran Hotspot di Sumsel
Selain empat wilayah tertinggi, BPBD juga mendeteksi titik panas di sejumlah kabupaten lain. Berikut rincian sebaran hotspot di Sumatera Selatan per 12 Juli 2026:
- Musi Banyuasin: 89 titik
- Muaraenim: 71 titik
- OKI: 67 titik
- OKU: 65 titik
- Lahat: 38 titik
- Ogan Ilir: 37 titik
- Pali: 27 titik
- OKU Timur: 22 titik
- Banyuasin: 20 titik
Sementara itu, Kota Palembang dan Lubuklinggau tercatat nihil hotspot sepanjang Juli ini.
Langkah BPBD: Patroli Darat dan Verifikasi Lapangan
Menindaklanjuti temuan ini, BPBD Sumsel mengintensifkan patroli darat dan pemantauan udara. “Patroli darat dan pemantauan terus dilakukan untuk menangani kebakaran sedini mungkin,” terang Sudirman.
Verifikasi lapangan menjadi kunci untuk memastikan apakah titik panas benar-benar telah berubah menjadi api. Jika terbukti, tim pemadam akan segera dikerahkan untuk mencegah perluasan lahan terbakar yang bisa merugikan warga dan ekosistem.
Waspada Karhutla: Imbauan untuk Masyarakat
BPBD mengimbau warga di wilayah rawan, khususnya di Muba, Muaraenim, OKI, dan OKU, untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Musim kemarau yang kering membuat api mudah menjalar dan sulit dikendalikan.
Masyarakat diminta segera melaporkan jika melihat kepulan asap atau titik api di sekitar pemukiman maupun lahan kosong. Deteksi dini dan respons cepat menjadi kunci utama menekan risiko Karhutla di Sumatera Selatan.