MUARA ENIM — Pemerintah pusat melalui Kantor Staf Presiden (KSP) memastikan percepatan komersialisasi Gas Metana Batubara (CBM) di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, menjadi prioritas. Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman, langsung meninjau lokasi proyek untuk memastikan pembangunan infrastruktur pendukung berjalan tepat waktu.
Proyek ini merupakan bagian dari upaya optimalisasi sumber daya energi domestik guna mengurangi ketergantungan impor LPG. Lapangan CBM Tanjung Enim memiliki potensi sumber daya sekitar 9,7 triliun kaki kubik (TCF), menjadikannya salah satu proyek migas nonkonvensional paling prospektif di Indonesia.
Infrastruktur Kunci: CNG Mother Station dan Integrasi Jaringan
Salah satu infrastruktur utama yang menjadi fokus percepatan adalah pembangunan Compressed Natural Gas (CNG) Mother Station di kawasan Tanjung Enim. Fasilitas ini akan mengompresi gas metana hasil produksi dari lapisan batubara sebelum disalurkan ke jaringan distribusi.
Dalam kunjungan tersebut, Dudung juga meninjau Stasiun Penerima Gas (SPG) Pagardewa, Stasiun Kompresor Gas (SKG) Pagardewa, serta pembangunan fasilitas Injection Point CNG dan biometana. Seluruh infrastruktur ini menjadi bagian dari integrasi jaringan gas di wilayah Sumatera Selatan.
Koordinasi Lintas Sektor dan Target Kapasitas Produksi
"KSP mendukung kelancaran koordinasi lintas pemangku kepentingan agar berjalan lebih efektif, dengan memastikan pembagian peran, penyelesaian hambatan, dan tindak lanjut yang lebih jelas," ujar Dudung dalam keterangan resmi.
Dia menambahkan, proses administrasi dan persiapan pelaksanaan di lapangan akan didorong berjalan secara paralel meski tetap mengikuti mekanisme dan ketentuan yang berlaku. Sebagai Subholding Gas Pertamina, PT Perusahaan Gas Negara (PGN) menyiapkan skema penyaluran gas secara bertahap.
Kapasitas awal ditetapkan sebesar 1 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) dan akan ditingkatkan hingga 25 MMSCFD. Gas tersebut akan disalurkan melalui integrasi infrastruktur pipa dan nonpipa menuju jaringan transmisi PGN.
Tantangan yang Masih Dihadapi di Lapangan
Meski menjadi prioritas, proyek ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Beberapa di antaranya adalah penyesuaian Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), penyelesaian perizinan, serta koordinasi lintas instansi. KSP memastikan akan terus mengawal penyelesaian hambatan lintas sektor tersebut.
Direktur Utama PGN, Arief Kurnia Risdianto, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah. "Integrasi infrastruktur melalui pembangunan Injection Point dan CNG Mother Station menjadi elemen penting agar potensi gas dari Tanjung Enim dapat terhubung dengan jaringan transmisi PGN," kata Arief.
Menurutnya, dengan infrastruktur dan pengalaman yang dimiliki PGN sebagai Subholding Gas Pertamina, pihaknya siap menjalankan peran sebagai penghubung antara potensi pasokan gas domestik dengan kebutuhan energi nasional. Integrasi ini akan memperkuat rantai pasok gas nasional mulai dari sumber produksi, pengolahan, kompresi, pengangkutan, hingga penyaluran kepada pengguna akhir.