Pencarian

Karantina Sumsel Perkuat Pengawasan 319 Spesies Asing Invasif, 132 Jenis Harus Dicegah Masuk ke Indonesia

Selasa, 30 Juni 2026 • 23:12:01 WIB
Karantina Sumsel Perkuat Pengawasan 319 Spesies Asing Invasif, 132 Jenis Harus Dicegah Masuk ke Indonesia
Petugas Karantina Sumsel memantau pengawasan 319 spesies asing invasif untuk menjaga keamanan hayati.

Analis Perkarantinaan Tumbuhan Ahli Utama Barantin, Antarjo Dikin, menjelaskan bahwa IAS mencakup hewan, ikan, tumbuhan, mikroorganisme, hingga patogen yang berada di luar habitat alaminya. Spesies ini berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem, menurunkan keanekaragaman hayati, dan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar.

“Bahkan dampaknya bisa langsung menyentuh kesehatan manusia. Pengendalian IAS harus dilakukan secara terpadu,” ujar Antarjo dalam acara yang digelar di Palembang.

Tiga Pendekatan Pengawasan: Pre-Border hingga Post-Border

Strategi yang diterapkan tidak lagi reaktif. Karantina Sumsel menggunakan pendekatan pre-border, border, dan post-border yang didukung analisis risiko menyeluruh. Menurut Antarjo, metode ini jauh lebih efektif ketimbang menangani spesies invasif setelah mereka menyebar luas ke alam.

Saat ini, daftar IAS di Indonesia masih mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.94 Tahun 2016. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika ancaman biosekuriti menuntut pembaruan data secara berkala agar kebijakan tetap adaptif.

Sinergi Lintas Lembaga Jadi Kunci Deteksi Dini

Kepala Karantina Sumatera Selatan, Sri Endah Ekandari, menegaskan bahwa pengawasan IAS tidak bisa ditangani oleh satu instansi saja. Sistem deteksi dini yang efektif membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

“Keamanan hayati dari ancaman IAS merupakan tanggung jawab bersama. Sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk memperkuat sistem pengawasan sehingga potensi masuk dan penyebaran spesies asing invasif dapat dicegah sedini mungkin,” katanya.

Perwakilan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumsel, Muhammad Andriansyah, menekankan pentingnya koordinasi dalam konservasi satwa liar dan perlindungan spesies asli Indonesia. Sementara itu, Peneliti Ahli Madya BRIN, Bobby Muslimin, mendorong inventarisasi spesies endemik dan pertukaran data sebagai dasar kebijakan berbasis ilmiah.

Akademisi Dorong Riset Ikan Lokal untuk Konservasi

Kalangan akademisi dari Universitas Sriwijaya, Universitas PGRI Palembang, dan Universitas Muhammadiyah Palembang turut mendorong penguatan kolaborasi riset. Mereka menilai penelitian terhadap spesies lokal seperti ikan belida, ikan tiger, dan ikan betok perlu terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya konservasi.

Seluruh peserta sepakat memperkuat kerja sama antarlembaga melalui penelitian bersama, pertukaran data, pembaruan informasi Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK), serta penyusunan analisis risiko yang lebih komprehensif. Langkah ini diharapkan mampu mendukung sistem pengawasan spesies asing invasif yang lebih efektif dan berkelanjutan di Sumatera Selatan.

Bagikan
Sumber: rri.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks