SUMATERA SELATAN — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan strategi pemerintah menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang dipicu konflik Timur Tengah. Dalam keterangannya, Rabu (24/6), ia menekankan bahwa perdamaian menjadi kunci perbaikan prospek ekonomi dunia dan rantai pasok global yang berdampak langsung pada Indonesia.
Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Semester II 2026
Pemerintah menyiapkan paket stimulus ekonomi Rp26,34 triliun untuk menjaga momentum pertumbuhan pada paruh kedua tahun depan. Rinciannya meliputi Rp2,04 triliun untuk sektor transportasi dan pariwisata, Rp6,26 triliun untuk program magang dan vokasi, serta Rp18,04 triliun untuk bantuan pangan.
Airlangga menyatakan bahwa sinergi kebijakan fiskal dan moneter terus diperkuat. Ia menyebutkan koordinasi temporer dengan Bank Indonesia dilakukan untuk memonitor dana pihak ketiga perbankan, penyaluran kredit, dan likuiditas pasar.
Diversifikasi Pasokan Energi dan Bahan Baku
Pemerintah memperkuat strategi diversifikasi sumber pasokan energi dan bahan baku. Airlangga menegaskan pengalaman pandemi Covid-19 dan konflik internasional menjadi pelajaran agar Indonesia tidak bergantung pada satu negara atau satu sumber pasokan.
Saat ini, ketergantungan impor minyak Indonesia dari Timur Tengah hanya sekitar 20 persen. Pasokan alternatif telah tersedia dari berbagai negara lain, termasuk sejumlah negara di Afrika. Pemerintah juga mengantisipasi dampak El Nino terhadap ketahanan pangan melalui program pompanisasi dan peningkatan produksi pertanian.
Kinerja KEK dan Daya Tarik Investasi Indo-Pasifik
Di tengah ketidakpastian, sejumlah kawasan ekonomi khusus (KEK) di Indonesia menunjukkan kinerja positif dengan tingkat okupansi tinggi. Hal ini mendorong rencana ekspansi di beberapa kawasan sebagai bagian dari penyesuaian rantai pasok global.
Airlangga menilai kawasan Indo-Pasifik tetap aman dan menarik bagi investasi global. Pertumbuhan ekonomi ASEAN yang masih di atas 4 persen, serta stabilitas kawasan yang didukung Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru, menjadi modal penting menjaga kepercayaan investor.
Aksesi OECD dan Perjanjian Dagang Strategis
Pemerintah aktif memperluas akses pasar dan investasi melalui kerja sama ekonomi internasional. Salah satu langkah strategis adalah proses aksesi Indonesia ke OECD yang beranggotakan 38 negara dengan nilai ekonomi mencapai sekitar 64 triliun dolar AS. Airlangga meyakini keanggotaan ini dapat meningkatkan kualitas regulasi nasional dan memperkuat kepercayaan investor.
Indonesia juga terus memperluas kerja sama melalui CPTPP dan IEU-CEPA. Khusus IEU-CEPA, perjanjian tersebut diproyeksikan membuka akses kompetitif bagi produk manufaktur Indonesia ke pasar Uni Eropa yang bernilai ekonomi sekitar 21 triliun dolar AS dengan populasi 723 juta jiwa. Melalui implementasi penuh perjanjian, berbagai produk Indonesia berpotensi menikmati penghapusan tarif masuk yang saat ini masih berkisar 10–20 persen.
"Ekonomi Indonesia dasarnya solid. Dan usahanya kuat. Jadi resilient. Makanya kita akan terus dorong agar selain resilience, nanti bisa memakmurkan masyarakatnya," pungkas Airlangga.