SUMATERA SELATAN — Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Direktur Utama PT Pos Indonesia, Senin (22/6/2026), Rachmat Gobel menyoroti belum adanya angka konkret dari strategi merger yang disusun. Ia menilai, tanpa target persentase penurunan biaya yang jelas, konsolidasi antar-BUMN hanya akan menjadi wacana tanpa hasil.
“Saya belum melihat berapa persen rencana dengan merger ini bisa mengurangkan kos logistik kita,” ujar legislator Fraksi NasDem dari daerah pemilihan Gorontalo itu.
Gobel juga mempertanyakan arah konsolidasi yang tengah disiapkan. Ia meminta manajemen PT Pos Indonesia menjelaskan secara gamblang apakah langkah tersebut benar-benar merger atau sekadar perubahan status menjadi anak perusahaan.
“Ini merger, ya? Bukannya jadi anak perusahaan, bukan?” tegasnya.
Dorong Sinergi dengan Ojek Online, Bukan Investasi Mahal
Alih-alih menggelontorkan dana besar untuk investasi infrastruktur baru, Gobel menyarankan PT Pos Indonesia untuk memperkuat kolaborasi dengan pelaku ekonomi digital dan transportasi berbasis aplikasi. Menurutnya, kemitraan dengan pengemudi ojek online dan pelaku usaha mikro justru lebih efektif memperluas jaringan distribusi sekaligus menekan biaya operasional.
“Apakah tidak terpikirkan Bapak melakukan sinergitas dengan mereka-mereka? Sehingga Bapak tidak perlu melakukan investasi,” kata Gobel.
Ia menilai, jika PT Pos Indonesia memaksakan investasi mandiri, biaya perawatan dan operasional justru akan membengkak. Sebaliknya, menggandeng UMKM dapat menekan biaya produksi dan logistik secara signifikan.
“Kalau Bapak investasi, ongkosnya mahal. Biaya maintenance dan biaya lain sebagainya. Kenapa tidak memanfaatkan para UMKM ini dalam strategi mengurangi kos produksi dan kos logistik?” tegasnya.
Dampak Sosial bagi Pengemudi dan UMKM
Gobel melihat konsolidasi BUMN logistik tidak hanya soal efisiensi, tetapi juga peluang untuk menciptakan dampak sosial yang lebih luas. Dengan melibatkan pengemudi ojek online, perusahaan dapat memberikan tambahan pendapatan sekaligus melakukan pembinaan kualitas layanan.
“Saya yakin para ojek ini akan ada pendapatan buat mereka. Sekaligus bisa dilakukan pembinaan tentang servis atau pelayanan yang lebih berkualitas,” ujarnya.
Menurutnya, jika strategi sinergi ini dijalankan secara serius, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh PT Pos Indonesia, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan UMKM dan memperkuat ekonomi kerakyatan secara keseluruhan. “Kalau ini dilakukan, ini akan luar biasa. UMKM kita akan tumbuh dan berkembang,” pungkasnya.