SUMATERA SELATAN — Pandemi COVID-19 memaksa banyak orang mencari penghasilan tambahan. Vivi, seorang ibu rumah tangga di Aceh, memilih meracik bumbu masakan khas daerahnya. Awalnya ia hanya menjual ke tetangga dan kerabat dekat.
“Saya coba-coba jual bumbu Aceh, ternyata banyak yang suka. Tapi waktu itu belum paham cara jualan online atau ngurus izin,” ujar Vivi kepada tim Rumah BUMN BRI.
Peluang itu ia optimalkan setelah bergabung dengan program pelatihan Rumah BUMN BRI. Program ini memberikan pendampingan soal kemasan, pemasaran digital, hingga perizinan usaha.
Omzet Naik, Produk Tembus Luar Kota
Dari hasil pelatihan, Vivi mulai memperbaiki tampilan kemasan produknya. Ia juga belajar memotret produk dan membuat konten untuk media sosial. Lambat laun, pesanan mulai berdatangan dari luar kota.
Saat ini, ShanJay Cook mencatat omzet jutaan rupiah setiap bulannya. Produk bumbu masakan Aceh buatannya, seperti bumbu ayam tangkap dan kuah beulangong, menjadi andalan. Vivi mengaku pendapatannya terus meningkat sejak mengikuti program Rumah BUMN BRI.
“Pelatihan dari Rumah BUMN BRI bikin saya lebih percaya diri. Sekarang pesanan tidak hanya dari Aceh, tapi juga dari Medan dan Jakarta,” tambahnya.
Rumah BUMN BRI: Inkubator UMKM Naik Kelas
Rumah BUMN BRI merupakan program pendampingan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di seluruh Indonesia. Program ini menyediakan pelatihan gratis, akses permodalan, dan jaringan pemasaran bagi anggota binaannya.
BRI menargetkan program ini mampu mendorong UMKM naik kelas, terutama di sektor kuliner dan kerajinan lokal. Vivi menjadi salah satu contoh nyata bagaimana UMKM kecil bisa tumbuh dengan pendampingan yang tepat.
Ke depan, Vivi berencana mengembangkan varian produk bumbu instan lainnya. Ia juga ingin memperluas jangkauan penjualan ke platform e-commerce besar. “Target saya, ShanJay Cook bisa jadi oleh-oleh khas Aceh yang dikenal nasional,” pungkasnya.