Pencarian

Dolar AS Melemah ke 98,92, Rupiah Justru Tertekan ke Rp17.723

Rabu, 26 Agustus 2026 • 09:08:31 WIB
Dolar AS Melemah ke 98,92, Rupiah Justru Tertekan ke Rp17.723
Rupiah melemah tipis ke Rp17.723 per dolar AS pada penutupan perdagangan, meskipun indeks dolar AS turun 0,07 persen.

SUMATERA SELATAN — Pasar valuta asing mencatat pergerakan yang kontras pada penutupan perdagangan kemarin. Di satu sisi, DXY melemah 0,07 persen, sementara di sisi lain rupiah di pasar spot justru terkoreksi 0,03 persen ke level Rp17.723 per dolar AS, melemah tipis dari posisi sebelumnya di Rp17.721.

Pelemahan dolar AS kali ini tidak lepas dari perubahan ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve. Probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September kini hanya diperkirakan mencapai 40,1 persen, turun signifikan dari sekitar 55 persen sebulan lalu.

Kebijakan Buyback Treasury dan Sanksi Iran Menekan Greenback

Selain ekspektasi suku bunga, tekanan terhadap dolar juga berasal dari kebijakan Departemen Keuangan AS. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan rencana untuk menggandakan nilai pembelian kembali atau buyback surat utang pemerintah AS bertenor panjang secara kuartalan. Langkah ini berpotensi menekan imbal hasil (yield) US Treasury tenor panjang, yang pada akhirnya mengurangi daya tarik aset berbasis dolar.

Dari sisi geopolitik, perluasan sanksi Washington terhadap Iran dinilai pasar tidak sekeras yang dikhawatirkan sebelumnya. Pendekatan yang lebih menitikberatkan pada tekanan ekonomi dibandingkan eskalasi militer ini berhasil meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah, sekaligus ikut menekan imbal hasil Treasury dan pergerakan dolar.

Yen Melemah, Dolar Kanada Tertekan Tarif AS

Pergerakan mata uang utama dunia pun beragam. Euro menguat 0,09 persen ke USD1,1673 dan poundsterling naik 0,1 persen ke USD1,3644. Namun, yen Jepang justru melemah 0,06 persen ke 159,22 per dolar AS.

Di kawasan Amerika Utara, dolar Kanada menguat 0,1 persen ke 1,383 per dolar AS setelah Washington memberlakukan tarif baru. AS menaikkan bea masuk menjadi 50 persen untuk seluruh mobil, truk, suku cadang otomotif, dan baja dari Kanada mulai 1 Januari 2027. Kanada merespons dengan tarif balasan terhadap impor AS senilai sekitar USD20 miliar per tahun, menambah ketidakpastian perdagangan di kawasan tersebut.

Target Pertumbuhan 8 Persen Dinilai Fitch Terlalu Ambisius

Pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor eksternal. Kondisi domestik turut menjadi perhatian investor, terutama terkait prospek pertumbuhan ekonomi. Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menilai target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027 lebih realistis dibandingkan ambisi pemerintah yang mencapai 8 persen dalam jangka menengah. Adapun proyeksi Fitch sendiri untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berkisar di angka 5 persen.

Risiko lain yang membayangi stabilitas rupiah berasal dari potensi kembali meningkatnya harga minyak dunia, perlambatan ekonomi mitra dagang utama, serta ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan. Dari sisi fiskal, pemerintah menargetkan defisit anggaran 2027 sebesar 2,4 persen terhadap PDB, lebih rendah dibandingkan target 2026 yang sebesar 2 persen.

Kendati fundamental dolar AS sedang tertekan, pelaku pasar tetap mencermati faktor teknikal. Posisi dolar yang dinilai sudah berada dalam kondisi oversold berpotensi membatasi ruang pelemahan lebih lanjut, sehingga pergerakan rupiah ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh data ekonomi AS dan perkembangan kebijakan perdagangan global.

Follow sumseloke.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kabarbursa.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks