SUMATERA SELATAN — Kepastian datang setelah Tino Livramento mengalami cedera betis dalam sesi latihan pada Minggu pekan lalu. Chalobah, yang sebelumnya tidak masuk dalam skuad awal Tuchel untuk turnamen di Amerika Utara, mendapat telepon video dari pelatih asal Jerman itu tak lama setelah menyadari ada pesan masuk.
Panggilan yang Tertunda Dua Jam di Times Square
Saat Tuchel mengirim pesan, Chalobah sedang berjalan-jalan di Times Square. Ia baru melihatnya dua jam kemudian saat kembali ke hotel. "Jantung saya langsung berdegup kencang. Saya langsung tahu," kata Chalobah. Dalam panggilan video, Tuchel tersenyum dan berkata, "Aku punya kabar baik untukmu."
Perjalanan Kilat dari Formula 1 ke Skuad Inggris
Sebelum panggilan itu, Chalobah menghabiskan akhir pekan di Monako untuk menyaksikan Grand Prix Formula 1, lalu singgah di Cannes sebelum terbang ke New York pada Sabtu. Rencana awalnya adalah melanjutkan liburan ke Los Angeles. Semua berubah saat ia harus bergegas mengurus perlengkapan — termasuk sepatu bola yang sudah ia berikan di akhir musim.
"Saya memberikan sepatu saya di akhir musim. Sponsor saya berencana mengirimkan sepatu baru ke AS untuk latihan pribadi. Saya harus mempercepat prosesnya setelah dipanggil," jelas Chalobah.
Keyakinan yang Tak Pernah Padam Sejak 2018
Pada Juli 2018, Chalobah mengunggah foto trofi Piala Dunia di media sosial dengan keterangan "Suatu hari... percayalah." Saat itu ia baru 19 tahun dan menjalani masa pinjaman di Ipswich. Unggahan itu ia repost setelah panggilan Tuchel tiba. "Saya selalu percaya suatu hari akan terwujud. Ini momen nomor satu dalam karier saya, terutama karena saya tidak menduganya sekarang," ucapnya.
Adaptasi Kilat dan Keyakinan untuk Main Besar
Chalobah sempat menjalani latihan individu sebelum bergabung dalam sesi penuh bersama skuad pada Sabtu. Ia melewatkan kamp persiapan Inggris di Florida karena terlambat dipanggil. "Sebagai atlet, Anda harus selalu siap mental. Saya terbiasa dengan situasi mendadak seperti ini sepanjang karier," katanya.
Perjalanan Chalobah tidak mulus. Ia sempat dibuang ke "bomb squad" Chelsea pada 2024 — pemain yang ingin dijual klub — sebelum dipinjamkan ke Crystal Palace. Chelsea menariknya kembali pada Januari 2025 karena krisis cedera. "Saya tahu pemain seperti apa saya. Saya tahu apa yang sudah saya lalui. Saya tidak bisa membiarkan momen-momen itu mendefinisikan saya," tegas Chalobah.
Iman sebagai Fondasi
Keyakinan religius Chalobah menjadi pusat dari ketangguhannya. "Apa pun yang terjadi, saya punya fondasi yang bisa saya andalkan. Karena iman saya, saya tahu momen-momen itu tidak akan mendefinisikan saya. Saya hanya menggunakannya sebagai bahan bakar untuk selalu membuktikan orang salah," pungkasnya.