BANYUASIN — Kelompok Tani (Poktan) Sido Makmur di Banyuasin, Sumatera Selatan, kini menjadi laboratorium hidup bagi program hilirisasi pertanian berbasis digital. Inisiatif ini digagas oleh tim dosen Universitas IBA sebagai respons terhadap maraknya lonjakan harga pangan yang kerap terjadi akibat panjangnya rantai pasok.
Ketua Tim Pemberdayaan Universitas IBA Yursida mengatakan, pelatihan yang diberikan tidak hanya soal budidaya, tetapi juga penguasaan pemasaran digital pascapanen. "Menjawab tantangan pasar modern, para petani lokal saat ini dilatih untuk menguasai manajemen pemasaran pascapanen berbasis digital. Materi hilirisasi tersebut diberikan untuk memotong rantai distribusi agar petani bisa menikmati keuntungan yang lebih besar," kata Yursida di Palembang, Rabu.
Cabai Unggul IPB dan Teknologi Proliga Jadi Andalan Hulu
Di sektor hulu, petani tidak lagi menanam cabai sembarangan. Mereka dibekali bibit cabai keriting varietas unggul Neno IPB dan teknologi Proliga—singkatan dari produksi lipat ganda. Teknologi ini dirancang untuk menjaga kontinuitas pasokan ke pasar, sehingga harga tidak meroket saat pasokan menipis.
Pendekatan ini selaras dengan target Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang selama ini kesulitan menekan harga cabai di tingkat konsumen. Dengan pasokan yang stabil dari hulu, tekanan terhadap volatile foods bisa diredam.
E-Commerce Jadi Jalan Pintas Petani ke Konsumen Akhir
Sementara di sektor hilir, petani didampingi langsung oleh tim akademisi yang beranggotakan Karlin Agustina dan Pandriadi. Pendampingan ini fokus pada cara menembus rantai konsumen akhir melalui platform niaga elektronik (e-commerce).
Jika model ini diadopsi secara massal, Yursida menilai ketergantungan terhadap tengkulak atau distributor konvensional yang tidak efisien bisa ditekan. "Hal ini secara otomatis akan mendukung target pemerintah dalam mengendalikan volatile foods," ujarnya.
Program ini didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tahun anggaran 2025. Tak hanya akademisi, dukungan datang dari lintas sektoral: pemerintah kecamatan, petugas penyuluh lapangan (PPL), hingga aparat komando kewilayahan TNI dan Polri ikut mengawal jalannya proyek percontohan ini.
Mahasiswa Pertanian Ikut Turun ke Lapangan
Uniknya, program ini juga melibatkan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas IBA. Mereka menjadi jembatan antara teori kampus dan praktik di sawah. Mulai dari pendampingan teknis budidaya hingga membantu petani mengoperasikan aplikasi pemasaran digital, mahasiswa mendapat pengalaman langsung sebelum lulus.
Ke depan, tim akademisi menargetkan model serupa bisa direplikasi di sentra produksi pangan lain di Sumatera Selatan. Jika berhasil, petani bukan hanya menjadi produsen, tetapi juga pengendali harga di pasar mereka sendiri.