LUBUKLINGGAU — Suasana Terminal Kalimantan di Lubuklinggau berubah jadi lebih cair Senin lalu. Bukan karena ada razia, melainkan puluhan polisi duduk lesehan sambil menyeruput kopi bersama para sopir angkot dan pedagang kaki lima. Itulah program Bang Kopling—akronim dari Sambang Kopi Keliling—yang digagas Sat Binmas Polres setempat.
Kasat Binmas Polres Lubuklinggau, Nyoman Sutrisno, mengatakan kegiatan ini sengaja dikemas tidak formal. Tujuannya satu: membuka ruang dialog dua arah antara polisi dan masyarakat.
"Melalui Bang Kopling kami bisa mendengar langsung berbagai aspirasi dan persoalan yang dihadapi masyarakat. Ini menjadi sarana membangun kedekatan sekaligus meningkatkan kesadaran bersama menjaga kamtibmas," ujar Nyoman dalam keterangannya.
Ngopi Jadi Sarana Preventif Kejahatan
Alih-alih memberi ceramah dari panggung, polisi justru duduk semeja dengan warga. Mereka membahas soal keamanan lingkungan, potensi gangguan, hingga cara cepat melapor jika terjadi tindak kriminal. Di sela obrolan, petugas juga mengenalkan layanan Call Center 110 yang bisa diakses 24 jam.
Menurut Nyoman, pendekatan humanis seperti ini lebih ampuh menekan angka kriminalitas ketimbang patroli biasa. Sebab, warga jadi lebih percaya diri melapor tanpa rasa takut atau sungkan.
Polri Presisi: Polisi Sahabat Masyarakat
Kabid Humas Polda Sumsel, Nandang Mu’min Wijaya, menegaskan Bang Kopling merupakan implementasi nyata dari Polri Presisi. Konsep ini menempatkan masyarakat bukan sebagai objek pengamanan, melainkan mitra strategis.
"Polri hadir tidak hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sahabat masyarakat yang siap mendengar, melayani, dan memberikan solusi terhadap berbagai persoalan sosial," tegas Nandang.
Lewat program ini, Polda Sumsel berharap tercipta lingkungan yang aman dan nyaman, sekaligus mendukung aktivitas ekonomi warga di kawasan terminal. Polisi bukan lagi sosok yang ditakuti, tapi tempat curhat soal keamanan kampung.