SUMATERA SELATAN — Pukul 09.38 WIB, rupiah kehilangan 59 poin dari posisi sebelumnya. Tekanan terhadap mata uang Garuda masih bersumber dari penguatan indeks dolar AS di pasar global. Saat dolar perkasa, hampir semua mata uang emerging market, termasuk rupiah, ikut terdepresiasi.
Kurs di Tiga Bank: Selisih Tipis antar Lembaga
Bagi pelaku bisnis atau investor yang hendak bertransaksi valas hari ini, perbedaan kurs antar bank cukup sempit. Bank Mandiri menawarkan kurs jual untuk transaksi TT Counter dan Bank Notes di level Rp 17.940 per dolar AS. Kurs beli Mandiri untuk kedua jenis transaksi itu dipatok di Rp 17.640 dan Rp 17.625.
BCA membanderol kurs jual TT Counter dan Bank Notes di angka yang sama, Rp 17.940 per dolar AS. Namun, untuk nasabah yang bertransaksi melalui e-Banking, BCA menyediakan e-Rate dengan kurs jual lebih rendah, yakni Rp 17.898. Adapun kurs beli e-Rate BCA berada di Rp 17.878.
BNI tak berbeda jauh. Bank pelat merah ini memasang kurs jual TT Counter dan Bank Notes pada level Rp 17.940 per dolar AS. Kurs beli berada di kisaran Rp 17.640 dan Rp 17.625.
Transaksi Besar? Ada Special Rate
Bagi korporasi atau nasabah dengan kebutuhan valas di atas 25.000 dolar AS (ekivalen), BCA menyediakan special rate. Kurs jual khusus ini dipatok lebih rendah dari kurs umum, yaitu Rp 17.895 per dolar AS. Sementara kurs beli special rate berada di Rp 17.865.
Angka ini hanya merupakan kurs indikasi. Nasabah tetap perlu menghubungi cabang untuk memastikan kurs yang berlaku saat transaksi efektif. Seluruh transaksi valas di atas jumlah tertentu mewajibkan nasabah menyertakan dokumen underlying sesuai ketentuan Bank Indonesia. Aturan ini berlaku untuk menghindari transaksi spekulatif yang bisa memperburuk stabilitas kurs.
IHSG Hijau, Rupiah Merah: Sinyal Pasar yang Berseberangan
Fenomena menarik terjadi hari ini. Di saat rupiah terpuruk, IHSG justru mencatat penguatan ke level 6.217. Pemisahan arah ini menunjukkan bahwa investor di pasar saham masih optimis terhadap prospek fundamental emiten, terutama di sektor yang tidak terlalu bergantung pada impor. Sebaliknya, pelaku pasar valas masih wait and see menunggu langkah intervensi Bank Indonesia untuk menahan laju pelemahan rupiah.