SUMATERA SELATAN — Momen yang sudah dinanti selama 22 tahun akhirnya tiba. Arsenal resmi mengunci gelar juara Premier League ke-14 setelah rival terberat mereka, Manchester City, hanya mampu bermain imbang 1-1 di Vitality Stadium. Hasil itu membuat keunggulan Arsenal di puncak klasemen tetap empat poin dengan satu pekan tersisa, tak terkejar lagi oleh pasukan Pep Guardiola.
Pesta Tanpa Bertanding: Euforia yang Tertunda Sejak Invincibles
Ini adalah gelar pertama Arsenal sejak era keemasan Arsene Wenger pada 2003/2004—musim di mana mereka menyandang julukan 'The Invincibles' karena tak terkalahkan sepanjang liga. Tiga musim beruntun finis sebagai runner-up akhirnya terbayar lunas di tangan Mikel Arteta, yang kini menjalani musim penuh ketujuh di kursi pelatih.
Yang membuat perayaan ini terasa berbeda: Arsenal tidak bermain malam itu. Mereka baru akan bertandang ke Crystal Palace di laga pamungkas akhir pekan nanti, sudah berstatus juara.
Gol Haaland Tak Cukup, City Gagal di Momen Krusial
Tekor diunggulkan, Bournemouth justru memberi kejutan lewat gol Eli Junior Kroupi yang membuat tuan rumah unggul lebih dulu. Erling Haaland memang menyamakan kedudukan di masa injury time, tapi hasil imbang itu sudah cukup untuk memastikan gelar Premier League melayang ke Emirates.
City—yang akan ditinggal Guardiola musim panas ini—sebenarnya masih punya peluang setelah Arsenal hanya menang tipis 1-0 atas Burnley malam sebelumnya. Tapi, mereka gagal memanfaatkan momentum. "Kami berharap lebih dari City. Saat semuanya ada di tangan mereka, mereka tidak bisa menyelesaikannya," ujar mantan bek City, Micah Richards, menyayangkan performa tim asuhannya.
Mentalitas Baja Declan Rice: Percaya Diri Usai Kalah di Etihad
Perjalanan Arsenal menuju gelar ini nyaris tergelincir saat mereka takluk dari City di Etihad Stadium bulan lalu. Tapi sejak kekalahan itu, The Gunners memenangkan empat laga beruntun tanpa kebobolan satu gol pun—sebuah bukti ketangguhan mental yang diakui gelandang andalan mereka, Declan Rice.
"Kami tahu dari dalam diri kami bahwa keyakinan itu ada. Kami masih bisa memenangkannya," kata Rice. "Tapi ini emosional. Melihat dari mana klub ini berasal dalam 10 tahun terakhir—pasang surut yang terjadi—menjadi bagian dari momen ini sangat spesial. Klub ini pantas mendapatkan hal-hal baik."
Rice, yang bergabung dengan mahar besar pada musim panas 2023, menjadi salah satu pilar utama transformasi skuad Arteta. Kombinasinya dengan Martin Ødegaard di lini tengah memberi Arsenal keseimbangan yang selama bertahun-tahun mereka cari.
Double Impian: Final Liga Champions di Budapest
Belum selesai. Arsenal masih berpeluang mengukir sejarah yang lebih manis. Pekan depan, mereka akan menghadapi Paris Saint-Germain di final Liga Champions di Budapest. Jika menang, itu akan menjadi gelar ganda perdana dalam sejarah klub—Premier League dan Liga Champions dalam satu musim.
Mikel Arteta kini memiliki kesempatan menyamai pencapaian Wenger, bahkan melampauinya, dengan trofi paling prestisius di Eropa. Setelah 22 tahun penantian, Arsenal bukan hanya kembali ke puncak—mereka mungkin baru saja memulai era baru.