PALEMBANG — Pemantauan satelit mendeteksi ribuan titik panas yang tersebar hampir merata di seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Selatan. Selain tiga daerah penyumbang terbanyak, titik panas juga muncul di Muara Enim 120 titik, Musi Rawas Utara 57 titik, Ogan Ilir 36 titik, Musi Rawas 29 titik, dan Ogan Komering Ulu Timur 26 titik.
Daerah lain yang turut mencatat titik panas antara lain Ogan Komering Ulu 19 titik, Penukal Abab Lematang Ilir 11 titik, Empat Lawang lima titik, serta Ogan Komering Ulu Selatan dua titik. Kota Palembang dan Kota Prabumulih masing-masing terdeteksi satu titik panas.
Konsentrasi PM2.5 Palembang Jauh di Atas Ambang Normal
Data IQAir yang diperoleh menunjukkan konsentrasi polutan PM2.5 di Palembang mencapai 857,5 mikrogram per meter kubik. Angka itu jauh melampaui batas aman harian yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 15 mikrogram per meter kubik.
Indeks kualitas udara AQI US di Palembang tercatat 1.944, level yang dikategorikan berbahaya bagi seluruh kelompok penduduk. Kondisi ini membuat aktivitas di luar ruangan berisiko tinggi, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga dengan penyakit pernapasan.
Karhutla dan Partikel Halus PM2.5
Kebakaran hutan dan lahan dapat menghasilkan asap yang mengandung partikel halus, termasuk PM2.5, yang berisiko mengganggu kesehatan masyarakat. Partikel berukuran sangat kecil itu mampu menembus saluran pernapasan hingga ke paru-paru dan aliran darah.
Meski demikian, titik panas yang terdeteksi melalui pemantauan satelit tidak selalu menandakan kebakaran aktif. Diperlukan pemeriksaan lapangan untuk memastikan keberadaan api dan kondisi kebakaran di setiap lokasi yang terdata.
Daerah Penyumbang Terbesar Titik Panas
Kabupaten Ogan Komering Ilir menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 1.616 titik. Banyuasin mencatat 536 titik dan Musi Banyuasin sebanyak 527 titik.
Ketiga daerah tersebut menyumbang sebagian besar dari total titik panas yang terdata di Sumsel. Wilayah-wilayah ini dikenal memiliki lahan gambut luas yang rentan terbakar pada musim kemarau.
Waspadai Dampak ke Kesehatan Warga
Memburuknya kualitas udara di Palembang berpotensi meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut di fasilitas kesehatan. Warga diimbau membatasi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah.
Pemerintah daerah dan instansi terkait belum memberikan keterangan resmi soal langkah penanganan karhutla maupun antisipasi dampak kabut asap terhadap kesehatan warga.