SUMATERA SELATAN — Paparan abu vulkanik memang perlu diwaspadai karena bisa mengganggu sistem pernapasan jika terhirup. Namun, material ini juga menyimpan potensi besar bagi tanah dan tanaman. Selama ini abu vulkanik sering dikaitkan dengan tanah yang jadi lebih subur usai gunung meletus.
Benarkah demikian? Jawabannya tidak sesederhana itu. Dampaknya bergantung pada kondisi abu, jumlah paparan, serta cara dan waktu pengelolaannya.
Kandungan Hara dalam Abu Vulkanik
Penelitian Kurniatun Hairiah dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya bersama sejumlah peneliti mengulas potensi ini. Kajian mereka berjudul Applying volcanic ash to croplands, The untapped natural solution, terbit di jurnal ScienceDirect pada November 2020.
Menurut riset tersebut, material vulkanik bisa menjadi sumber nutrisi bagi tanah sekaligus membantu penyerapan karbon. Saat mengalami pelapukan, berbagai unsur di dalamnya terlepas dan masuk ke tanah. Material yang semula tanpa kandungan karbon organik pun berubah membentuk tanah kaya karbon.
"Di negara-negara dengan gunung berapi aktif, seperti Indonesia, abu vulkanik dapat dimanfaatkan untuk menyediakan nutrisi dan mengurangi CO2 dari atmosfer. Proses pelapukan dapat menyerap CO2 dari atmosfer; selain itu, abu vulkanik yang awalnya tidak mengandung karbon dapat berubah menjadi tanah dengan kandungan karbon organik sekitar 10 persen," tulis Kurniatun dan kawan-kawan.
Tanah Vulkanik dan Cadangan Karbon Global
Andisol atau Andosol adalah jenis tanah yang terbentuk dari material vulkanik. Tanah ini terkenal subur dan mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar. Meski persebarannya cuma sekitar 1 persen dari permukaan bumi, Andisol menyimpan kurang lebih 5 persen cadangan karbon tanah global.
Peneliti juga menemukan kandungan karbon organik yang cukup tinggi pada lapisan atas tanah vulkanik di Sumatra Barat. Kawasan dengan tanah vulkanik pun mampu menopang kegiatan pertanian dan kehidupan masyarakat dalam jumlah besar.
"Analisis kami terhadap lapisan atas tanah vulkanik di Sumatra Barat menunjukkan rata-rata kandungan karbon organik sebesar 4 persen, dan pada beberapa kasus, kandungan karbon tersebut dapat mencapai hingga 15 persen. Berkat kesuburannya, Andisol sering kali menopang kepadatan penduduk yang tinggi dan memegang peranan krusial dalam menjamin ketahanan pangan," ujar peneliti.
Potensi Material Vulkanik di Indonesia
Indonesia memiliki banyak gunung berapi aktif, sehingga sumber material vulkaniknya relatif melimpah. Peneliti mencatat tanah dari material vulkanik mencakup sekitar 31,7 juta hektare, atau sekitar 17 persen dari total daratan Indonesia.
Material ini tidak hanya berpotensi mendukung kesuburan tanah, tapi juga dikaji karena kemampuannya menyerap karbon dioksida. Berdasarkan analisis peneliti, pelapukan material vulkanik bisa menjadi bagian dari siklus karbon alami di lingkungan.
"Pada tahun-tahun dengan letusan gunung berapi yang signifikan, jumlah CO2 yang diserap dapat mencapai 100 sampai 200 Mt, atau setara dengan 20 persen sampai 40 persen dari emisi bahan bakar fosil negara tersebut. CO2 yang diserap selama proses pelapukan material vulkanik merupakan bagian dari siklus karbon global dan dipengaruhi oleh keputusan terkait penggunaan lahan," ujar Kurniatun.
Abu Vulkanik Tidak Selalu Langsung Menyuburkan
Meski membawa manfaat jangka panjang, tanaman yang langsung tertutup abu tidak otomatis tumbuh lebih subur. Paparan abu dalam jumlah banyak dan waktu lama justru bisa merusak tanaman.
Pakar ilmu pertanahan dari IPB University, Prof Iskandar, menyebut durasi paparan sebagai faktor penting. Semakin lama tanaman tertutup abu, semakin besar risiko gangguan pada pertumbuhan dan perkembangannya.
"Jika gangguan berlangsung berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, dampaknya akan buruk," ujar Prof Iskandar dikutip dari situs web IPB University.
Lapisan Abu Bisa Menghambat Fotosintesis
Lapisan abu yang menempel di permukaan daun menghalangi cahaya matahari masuk. Proses fotosintesis pun terganggu, sehingga tanaman sulit menghasilkan makanan sendiri. Kondisi ini diperparah jika abu bercampur air hujan dan membentuk lapisan keras di permukaan tanah.
Untuk kebun rumahan, ibu bisa membersihkan daun dengan air bersih usai abu reda. Gunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan, ya. Jika tanaman tampak layu atau menguning setelah beberapa hari, konsultasikan ke penyuluh pertanian setempat untuk penanganan lebih lanjut.
Abu vulkanik memang menyimpan manfaat bagi kesuburan tanah dalam jangka panjang. Namun untuk tanaman yang sedang tumbuh, kebersihan daun dan media tanam tetap jadi kunci agar tanaman tidak stres.