PALEMBANG — Sebuah bendera pusaka berwarna dasar biru dengan sasanti "Atidhira Wira Bhakti" menjadi pusat perhatian di Aula Lantai 7 Gedung Presisi Mapolda Sumsel, Kamis pagi. Pataka yang merupakan simbol kehormatan tertinggi Polda Sumsel itu resmi dicuci dalam sebuah prosesi khidmat yang dipimpin langsung Kapolda Irjen Pol Dr. Sandi Nugroho.
Prosesi pencucian menggunakan air bunga dan daun pandan, lalu diakhiri penyemprotan minyak wangi. Bagi Polri, rangkaian ini bukan sekadar seremoni. Lebih dari itu, tradisi tahunan ini dimaknai sebagai penyucian nilai dan pembaruan tekad pengabdian.
Akar Sejarah Pataka yang Dua Kali Raih Penghargaan Negara
Pataka Atidhira Wira Bhakti memiliki bobot historis yang kuat. Disahkan melalui Surat Keputusan Kapolri Nomor Pol. SKEP/1123/IX/1996 pada 20 September 1996, bendera pusaka ini menyimpan makna keteguhan hati dan jiwa keperwiraan dalam menegakkan kebenaran.
Yang membedakan Polda Sumsel dari kebanyakan polda lain di Indonesia adalah torehan prestasinya. Institusi ini tercatat dua kali menerima Tanda Kehormatan Nugraha Sakanti dari Presiden RI — pertama pada 1973 dan kembali pada 2025. Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasi dalam menjalankan tugas kepolisian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Refleksi di Tengah Persiapan Hari Bhayangkara ke-80
Kapolda Sumsel Irjen Pol Dr. Sandi Nugrogo menegaskan bahwa pataka bukan sekadar lambang organisasi. "Prosesi ini menjadi momentum untuk memperbarui komitmen pengabdian seluruh personel. Nilai-nilai Tribrata harus hidup dalam setiap tindakan anggota Polri sehingga kehadiran Polri benar-benar memberikan rasa aman, keadilan, dan pelayanan terbaik bagi masyarakat," ujarnya dalam sambutan.
Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu'min Wijaya menambahkan bahwa tradisi ini menjadi pengingat akan tanggung jawab moral menjaga kehormatan institusi. "Tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi pengingat bahwa setiap insan Bhayangkara memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kehormatan institusi serta terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat," ungkapnya.
Mengapa Tradisi Pencucian Pataka Penting bagi Polri?
Dalam struktur Polri, pataka adalah identitas sekaligus roh satuan. Prosesi pencucian yang dilakukan setiap tahun menjelang Hari Bhayangkara merupakan bentuk pembinaan tradisi untuk memperkuat loyalitas dan pengabdian. Rangkaian kegiatan turut diisi dengan menyanyikan Hymne Polri, pembacaan doa, dan penghormatan sebelum pataka kembali disemayamkan.
Melalui upacara ini, Polda Sumatera Selatan menegaskan komitmennya menghadirkan Polri yang Presisi — profesional, humanis, dan semakin dipercaya masyarakat dalam menjaga keamanan serta penegakan hukum di Bumi Sriwijaya.