JAKARTA — Rupiah dibuka di level Rp17.859 per dolar AS pada Selasa pagi, turun tipis dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.843. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan global yang masih membayangi mata uang negara berkembang.
Ancaman Trump dan Walkout Delegasi Iran Guncang Pasar
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan faktor geopolitik menjadi pemicu utama pelemahan rupiah. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan kembali menyerang Iran membuat situasi perundingan semakin rapuh.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah tipis dengan kisaran di Rp17.810-Rp17.860 dipengaruhi oleh faktor global risiko geopolitik yang masih rapuh terkait hasil perundingan AS dan Iran,” ujar Rully di Jakarta, Selasa.
Menurut laporan media internasional, delegasi Iran meninggalkan ruang perundingan setelah pernyataan Trump dan menolak kembali kecuali ada permintaan maaf. Iran juga mengumumkan tidak akan berpartisipasi dalam pertemuan empat pihak yang melibatkan Iran, AS, Qatar, dan Pakistan.
Indeks Dolar AS Masih Tinggi, The Fed Hawkish
Selain faktor geopolitik, tekanan juga datang dari kebijakan moneter AS. Rully menjelaskan bahwa The Fed masih menunjukkan sikap hawkish dengan kemungkinan kenaikan suku bunga satu kali lagi di tahun ini. Hal ini membuat indeks dolar AS tetap tinggi di level 101.
“Arah kebijakan The Fed ke depan menuju pada pengetatan untuk mengendalikan inflasi dengan kemungkinan kenaikan bunga satu kali di tahun ini yang berakibat index dollar akan terus menguat,” kata Rully.
Meski harga minyak dunia menunjukkan tren penurunan dan relatif stabil, penguatan dolar AS membuat ruang penguatan rupiah sangat terbatas.
Stimulus Rp26,34 Triliun Dinilai Belum Cukup Kuat
Di tengah tekanan eksternal, pemerintah menggelontorkan paket stimulus ekonomi untuk semester II-2026 dengan total anggaran Rp26,34 triliun. Stimulus ini mencakup insentif transportasi Rp2,04 triliun, program magang dan vokasi Rp6,26 triliun, serta bantuan pangan sebesar Rp18,04 triliun.
Rully menilai kebijakan stimulus tersebut diperkirakan akan menopang daya beli masyarakat dan berpotensi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Namun, dengan indeks dolar AS yang terus menguat, dampaknya terhadap penguatan rupiah dinilai masih sangat terbatas.