Pencarian

Eceng Gondok Diolah Jadi Pengharum Ruangan di Sumsel, Omzet Capai Rp 50 Juta hingga 2025

Senin, 22 Juni 2026 • 14:09:01 WIB
Eceng Gondok Diolah Jadi Pengharum Ruangan di Sumsel, Omzet Capai Rp 50 Juta hingga 2025
Eceng gondok di Sumatera Selatan diolah menjadi pengharum ruangan dengan omzet Rp 50 juta hingga 2025.

PALEMBANG — Eceng gondok yang selama ini dianggap sebagai gulma pengganggu ekosistem perairan, kini diubah menjadi peluang ekonomi di Sumatera Selatan. Melalui program Eceng Gondok Research and Creative Center (ERCC), Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju bersama kelompok Anak-Anak Kreatif Untuk Bangsa (Ankubas) mengolah biomassa tanaman air itu menjadi produk pengharum ruangan bernama Ankubas Scents.

Dari Gulma Jadi Wangi: Proses Inovasi di Balik Ankubas Scents

Program yang berjalan sejak 2023 ini mengandalkan pendekatan riset dan inovasi untuk mengubah eceng gondok yang melimpah di perairan Sumsel menjadi produk bernilai tambah. Pengharum ruangan tersebut dipasarkan melalui jaringan usaha lokal, mitra pencucian mobil, dan platform digital.

Hingga 2025, jangkauan pasar Ankubas Scents telah merambah sejumlah daerah di Sumsel, yakni Kota Palembang, Kabupaten Banyuasin, dan Kabupaten Lahat. Omzet penjualan yang mencapai Rp 50 juta menunjukkan bahwa produk berbasis eceng gondok memiliki potensi pasar yang nyata.

Ecobiz Cengklik: Eceng Gondok untuk Pupuk dan Biogas di Boyolali

Di Jawa Tengah, Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Adi Sumarmo menjalankan program Ecobiz Cengklik sejak 2022 di Desa Sobokerto, Boyolali. Pendekatan yang digunakan berbeda: eceng gondok diolah menjadi pupuk organik, pakan ternak, pakan ikan, dan biogas.

Program ini tidak hanya mengatasi masalah gulma di Waduk Cengklik, tetapi juga mendukung pertanian berkelanjutan. Pertamina membangun sumur submersible bertenaga surya untuk irigasi dan inovasi BERSIH (Bak Pencuci Sayur Higienis). Hingga saat ini, Ecobiz Cengklik telah memberikan manfaat langsung kepada 88 penerima, serta membentuk satu kelompok tani baru.

Mengapa Petani Harus Jadi Pilihan, Bukan Keterpaksaan

Salah satu penggerak program, Khoirul Huda, menyoroti fenomena berkurangnya minat masyarakat menjadi petani. "Saya bersama teman-teman ingin bahwa petani bisa sejahtera dan menjadi petani adalah pilihan," ujarnya.

Pernyataan ini menjadi cermin tantangan sektor pertanian di Indonesia, di mana regenerasi petani semakin sulit karena minimnya kesejahteraan. Melalui Ecobiz Cengklik, eceng gondok yang semula menjadi masalah justru menjadi solusi untuk meningkatkan pendapatan petani dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

Konteks Lebih Luas: Pelestarian Lingkungan dan Kesejahteraan Berjalan Beriringan

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menegaskan bahwa keberhasilan kedua program ini selaras dengan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). "Melalui ERCC dan Ecobiz Cengklik, kami melihat bagaimana masyarakat mampu menjadi aktor utama dalam menciptakan perubahan," ujarnya.

Roberth menambahkan, program-program ini membuktikan bahwa pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan dapat berjalan beriringan. "Inilah wujud komitmen Pertamina Patra Niaga untuk tumbuh bersama masyarakat dan menciptakan dampak yang berkelanjutan," sebutnya.

Apa Potensi Pengembangan Produk Eceng Gondok di Daerah Lain?

Keberhasilan di Sumsel dan Jateng membuka peluang replikasi di daerah lain yang menghadapi masalah serupa. Eceng gondok yang tumbuh subur di berbagai waduk dan sungai di Indonesia bisa diolah menjadi beragam produk, mulai dari kerajinan tangan, biogas, hingga pupuk organik. Kuncinya ada pada pendekatan riset dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Bagaimana Masyarakat Bisa Mendapatkan Manfaat dari Program Ini?

Masyarakat yang ingin terlibat atau mendapatkan manfaat dari program serupa dapat berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat atau mencari informasi melalui kanal resmi Pertamina Patra Niaga. Pola kemitraan yang dibangun di Palembang dan Boyolali bisa menjadi model pemberdayaan yang adaptif di wilayah lain.

Bagikan
Sumber: sumsel.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks