PALEMBANG — Kenaikan harga Pertamax yang mencapai lebih dari 30 persen mendorong Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, untuk menyarankan pemerintah segera menyalurkan bantuan sosial (bansos) tunai. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok rentan dan kelas menengah bawah di Sumatera Selatan yang terdampak langsung lonjakan biaya transportasi. Menurutnya, bantalan ekonomi harus diberikan segera setelah kebijakan berlaku agar konsumsi rumah tangga tidak turun drastis.
Bansos Tunai Jadi Bantalan Ekonomi Kelompok Rentan
Fakhrul menegaskan bahwa beban kenaikan harga BBM tidak boleh sepenuhnya ditanggung masyarakat. Ia menekankan pentingnya program bantuan langsung tunai yang cepat dan tepat sasaran.
"Yang paling penting saat ini adalah memastikan masyarakat yang terdampak tidak menanggung seluruh beban penyesuaian tersebut," kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Pemerintah, lanjutnya, dapat memanfaatkan teknologi digital, integrasi data kependudukan dan perbankan, serta kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat penyaluran. Kecepatan implementasi menjadi faktor kunci agar tidak terjadi penurunan konsumsi rumah tangga yang terlalu dalam.
Penyesuaian Harga Pertamax: Kebijakan Berat yang Tak Terhindarkan
Fakhrul memandang keputusan penyesuaian harga Pertamax sebagai langkah berat namun tidak bisa dihindari dalam kondisi fiskal saat ini. Pemerintah, menurutnya, menghadapi tantangan besar antara menjaga keberlanjutan fiskal dan menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta biaya impor energi yang meningkat.
Ia menilai kenaikan ini harus dipandang sebagai bagian dari proses penyesuaian fiskal yang lebih luas. Keberhasilan kebijakan sangat bergantung pada keberanian pemerintah mengevaluasi dan mereorganisasi belanja negara, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), agar lebih efisien dan berkelanjutan.
Dampak Positif bagi Stabilitas Makroekonomi
Di sisi lain, Fakhrul melihat ada dampak positif dari penyesuaian harga BBM. Berkurangnya tekanan subsidi energi dan sinyal disiplin fiskal yang kuat dapat memperbaiki persepsi pasar terhadap kesehatan ekonomi Indonesia.
Perbaikan fiskal ini berpotensi membantu stabilisasi nilai tukar rupiah yang belakangan tertekan. Ketika pasar melihat pemerintah mampu mengendalikan risiko fiskal dan memperbaiki kualitas belanja negara, tekanan terhadap rupiah akan berkurang secara bertahap.
"Yang terpenting adalah memastikan beban penyesuaian tidak jatuh sepenuhnya kepada masyarakat. Pemerintah perlu menunjukkan bahwa disiplin fiskal, perlindungan sosial, dan reformasi belanja negara dapat berjalan beriringan," ujarnya.
Fondasi Pertumbuhan Berkelanjutan
Jika langkah-langkah tersebut berhasil, Fakhrul optimistis Indonesia tidak hanya memperoleh fiskal yang lebih sehat, tetapi juga stabilitas ekonomi yang lebih kuat, rupiah yang lebih stabil, dan fondasi pertumbuhan yang lebih berkelanjutan ke depan.
Bagi Sumatera Selatan, di mana sektor transportasi dan logistik sangat bergantung pada BBM, kenaikan harga Pertamax dipastikan akan mempengaruhi harga barang dan jasa. Oleh karena itu, realisasi bansos tunai yang cepat menjadi harapan banyak pihak untuk meredam dampak inflasi dan menjaga daya beli warga.