PALEMBANG — Kepala Karantina Sumatera Selatan Sri Endah Ekandari menyatakan komoditas madu yang dikirim ke Singapura telah melewati pemeriksaan dan tindakan karantina sebelum diberangkatkan. Pemeriksaan itu dilakukan untuk memastikan persyaratan karantina dan ketentuan negara tujuan sudah terpenuhi.
Menurut Endah, pengiriman terbaru ini memperpanjang catatan ekspor madu Sumatera Selatan ke Singapura sepanjang 2026. Data itu dihimpun dari sistem BEST TRUST Barantin.
Empat Kali Kirim, Volume Lampaui Sepanjang 2025
Selama Januari hingga September 2026, ekspor madu ke Singapura tercatat 1.547,6 kilogram melalui empat kali pengiriman. Angka itu naik tajam dibandingkan sepanjang 2025 yang hanya 266 kilogram dalam satu kali pengiriman.
Volume sembilan bulan pertama 2026 bahkan sudah melewati capaian sepanjang 2024 yang sebesar 1.373 kilogram dalam tiga kali pengiriman. "Data tersebut menunjukkan volume ekspor madu Sumatera Selatan ke Singapura pada 2026 menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir berdasarkan periode data yang tersedia," kata Endah.
Karantina Jadi Kunci Jaga Kepercayaan Pasar
Sri Endah menegaskan keberlanjutan ekspor tidak hanya bergantung pada kemampuan produksi. Konsistensi memenuhi persyaratan negara tujuan juga menjadi bagian penting untuk menjaga kepercayaan pasar.
"Pemenuhan persyaratan karantina sejak dari daerah asal menjadi salah satu kunci dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap produk Indonesia," ujarnya.
Karena itu, pemeriksaan karantina dilakukan sebelum komoditas diberangkatkan. Balai Karantina Sumatera Selatan juga mendorong pelaku usaha memahami persyaratan pasar tujuan sejak awal agar proses ekspor berjalan lebih lancar.
Dengan tren pengiriman yang meningkat, madu asal Sumatera Selatan diharapkan tidak hanya mempertahankan pasar Singapura. Peluang menjangkau negara tujuan lain disebut terbuka lebar.